Nilai tukar rupiah menguat 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.729 per dolar AS pada perdagangan Jumat (21/8). Penguatan rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang Asia, termasuk won Korea Selatan, dolar Singapura, yen Jepang, dan yuan China. Di pasar negara maju, dolar Australia, euro, poundsterling, dan franc Swiss juga menguat terhadap dolar AS. Namun, peso Filipina dan ringgit Malaysia justru mengalami pelemahan.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak konsolidatif sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, rupiah masih mendapat dukungan dari pelemahan indeks dolar AS, tetapi penguatan harga minyak mentah dunia menjadi faktor yang membatasi pergerakan mata uang Garuda. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026. Data tersebut dijadwalkan dirilis pada Jumat siang dan dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi eksternal perekonomian Indonesia. Investor akan mencermati hasilnya untuk menentukan arah perdagangan rupiah selanjutnya. Sentimen dari pasar global juga tetap menjadi faktor penting dalam pergerakan mata uang.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan belum menunjukkan arah penguatan atau pelemahan yang terlalu tajam. Pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk bertahan di level yang lebih kuat, sementara kenaikan harga minyak menjadi tekanan tambahan. Pergerakan mata uang Asia dan sentimen investor terhadap data ekonomi domestik juga akan menentukan arah perdagangan. Rupiah pun diperkirakan tetap berada dalam rentang Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS.
Alexander Jason – Redaksi

