Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, memerintahkan ekstradisi lima warga negaranya ke Amerika Serikat setelah proses tersebut sebelumnya ditangguhkan karena mereka terlibat dalam perundingan perdamaian dengan kelompok bersenjata. Tiga orang, yakni Willinton Henao Gutierrez alias El Mocho Olmedo, Carmen Evelio Castillo Carrillo alias Muneca, dan Geovany Andres Rojas alias Arana, saat ini telah berada dalam tahanan. Sementara itu, dua orang lainnya akan diekstradisi setelah ditemukan dan ditangkap oleh aparat. Perintah ekstradisi terhadap kelima orang tersebut sebenarnya telah diterbitkan sejak 2025, ketika Gustavo Petro masih menjabat sebagai Presiden Kolombia.
Penangguhan dilakukan karena kelima orang tersebut terlibat dalam sejumlah proses perdamaian dan negosiasi dengan kelompok bersenjata di Kolombia. Namun, Espriella menegaskan bahwa proses perdamaian tidak boleh dimanfaatkan sebagai tempat berlindung bagi pelaku kejahatan atau menjadi sarana untuk menghindari pertanggungjawaban hukum.
Ia mengatakan pemerintahnya sejak awal telah menegaskan bahwa keterlibatan dalam perundingan dengan kelompok pemberontak tidak menghapus kewajiban seseorang untuk menghadapi proses hukum. Keputusan terbaru tersebut sekaligus mengakhiri penangguhan ekstradisi yang sebelumnya diberikan kepada mereka.
Pemerintah Amerika Serikat memburu kelima warga Kolombia tersebut atas berbagai dugaan kejahatan. Kasus yang menjerat mereka mencakup perdagangan narkoba, konspirasi kriminal, pencucian uang, serta perdagangan senjata ilegal. Mereka juga menghadapi tuduhan terorisme yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan narkoba.
Ekstradisi ini menunjukkan semakin kuatnya kerja sama penegakan hukum antara Kolombia dan Amerika Serikat dalam menghadapi jaringan kriminal dan kelompok bersenjata.
Keputusan Espriella juga menegaskan perubahan pendekatan pemerintah Kolombia terhadap proses perdamaian dan pertanggungjawaban pidana. Pemerintah tetap dapat memberikan ruang bagi negosiasi dengan kelompok bersenjata, tetapi kesempatan tersebut tidak secara otomatis memberikan perlindungan dari tuntutan hukum.
Dengan diberlakukannya kembali perintah ekstradisi, kelima tersangka akan menghadapi proses hukum di Amerika Serikat atas perkara yang dituduhkan kepada mereka. Langkah tersebut menandai berakhirnya kesempatan mereka untuk menggunakan keterlibatan dalam perundingan perdamaian sebagai alasan penundaan ekstradisi.
Alexander Jason – Redaksi

