Economy National

Samuel Sekuritas: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat Meski IHSG Terkoreksi

PT Samuel Sekuritas Indonesia kembali menggelar Media Connect sebagai forum diskusi bersama media yang membahas perkembangan pasar modal, literasi keuangan, serta prospek emiten. Kegiatan ini menghadirkan Research Division Bursa Efek Indonesia (BEI), Samuel Tumbuh Bersama, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RealCo) untuk mengulas kondisi ekonomi, strategi investasi, hingga peluang bisnis di tengah dinamika pasar.

Research Division Bursa Efek Indonesia, Fikrian Naufal H, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat meski pasar saham menghadapi tekanan sepanjang tahun 2026. Menurutnya, tekanan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global, seperti ketegangan geopolitik, inflasi, arah suku bunga Amerika Serikat, serta reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI), maupun faktor domestik seperti pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, hingga perkembangan indeks MSCI.

Meski demikian, sejumlah indikator makroekonomi dinilai masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi tetap positif, inflasi terkendali, rasio kredit bermasalah (NPL) berada di bawah 5 persen, serta cadangan devisa mencapai US$145,59 miliar pada Juni 2026.

Fikrian juga menyoroti perjalanan IHSG sejak awal tahun hingga akhir Juli 2026 yang bergerak dalam tekanan setelah sempat mencetak rekor tertinggi. Dalam materi IDX, IHSG sempat menyentuh all-time high di level 9.134,80 pada 20 Januari 2026, sebelum terkoreksi ke 6.236,13 pada 31 Juli 2026. Tekanan tersebut tidak lepas dari sejumlah sentimen global maupun domestik, termasuk isu MSCI, pelemahan rupiah, kenaikan BI Rate, serta perkembangan geopolitik.

Ia menambahkan, aktivitas pasar modal tetap menunjukkan pertumbuhan. Hingga Juli 2026, nilai transaksi perdagangan meningkat 24,6 persen secara year-to-date (YTD), frekuensi transaksi naik 41,9 persen, dan volume transaksi tumbuh 30,3 persen. Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah hingga mencapai lebih dari 30 juta investor.

Sementara itu, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menekankan pentingnya perencanaan keuangan berbasis siklus hidup (lifecycle financial planning). Menurutnya, masyarakat perlu mulai berinvestasi sejak dini untuk menghadapi tantangan seperti inflasi, suku bunga, dan beban pajak.

Dalam kesempatan yang sama, President Director & Founder PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RealCo), Edwin Pranata, memaparkan prospek industri sarang burung walet. Ia menyebut Indonesia masih menjadi pemasok sekitar 80 persen sarang burung walet dunia, dengan permintaan yang tetap kuat terutama dari pasar Tiongkok.

Menurut Edwin, RealCo akan terus memperluas bisnis melalui pengembangan produk kesehatan dan wellness, sekaligus meningkatkan ekspansi ke pasar internasional, termasuk Asia Tenggara, Tiongkok, Hong Kong, dan Amerika Serikat.

Melalui Media Connect, Samuel Sekuritas berharap masyarakat semakin memahami kondisi pasar modal, pentingnya literasi keuangan, serta peluang investasi yang tetap terbuka di tengah dinamika ekonomi global.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...