World

Serangan Drone Rusia Picu Ledakan Gudang Amunisi Dekat Kyiv, 38 Orang Tewas

Serangan Rusia terhadap sebuah gudang amunisi di Desa Myla, Distrik Bucha, wilayah Kyiv, Ukraina, memicu kebakaran dan serangkaian ledakan yang menewaskan sedikitnya 38 orang.

Serangan tersebut terjadi pada Jumat (28/8) malam. Ledakan berulang berlangsung selama beberapa jam setelah fasilitas yang menyimpan amunisi itu terbakar. Selain korban tewas, puluhan orang terluka dan sejumlah bangunan di sekitar lokasi mengalami kerusakan. Empat orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam penempatan bahan peledak di dekat permukiman warga dan berjanji meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian tersebut.

Dilansir dari CNN, Kepala Administrasi Militer Regional Kyiv Tymur Tkachenko mengatakan hingga Sabtu sore sedikitnya 37 orang dipastikan meninggal dunia. Jumlah korban masih berpotensi bertambah, menjadikan insiden tersebut sebagai salah satu yang paling mematikan di wilayah Kyiv sejak perang dimulai lebih dari empat tahun lalu.

“Ini adalah kehilangan yang mengerikan dan tidak dapat diperbaiki. Belasungkawa terdalam kami sampaikan kepada keluarga dan orang-orang terdekat mereka yang meninggal,” kata Tkachenko.

Foto dan video yang dibagikan warga setempat memperlihatkan sejumlah bangunan hancur total akibat ledakan. Beberapa lokasi hanya menyisakan dinding bangunan dan tanah yang hangus.

Zelensky mengatakan serangan Rusia mengenai fasilitas penyimpanan amunisi yang menurutnya seharusnya tidak berada di kawasan tersebut. Serangan itu kemudian menyebabkan peluru, ranjau, berbagai jenis amunisi, dan drone yang tersimpan di fasilitas tersebut meledak.

Zelensky menyebut situasi tersebut mengerikan dan menyoroti adanya kelalaian serius karena bahan-bahan peledak disimpan berdekatan dengan tempat tinggal warga. Ia mengatakan penyelidikan pidana telah dilakukan untuk mengusut kejadian tersebut.

Secara terpisah, Kantor Jaksa Agung Ukraina mengonfirmasi terdapat benda dan material peledak yang disimpan di lokasi tersebut. Penyelidikan akan dilakukan terhadap penyebab ledakan serta tindakan para pejabat yang bertanggung jawab atas fasilitas itu.

Insiden tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah tujuh orang tewas ketika serangan Rusia menghantam gudang yang menyimpan amunisi dalam jumlah besar di kawasan permukiman Vyshneve, dekat Kyiv. Lokasi tersebut berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi insiden terbaru.

Zelensky mengatakan sebuah panti perawatan bagi lansia dan penyandang disabilitas termasuk di antara puluhan bangunan yang mengalami kerusakan. Lebih dari 300 personel layanan darurat dikerahkan untuk menangani dampak serangan.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan Taras Didych, kepala pemerintahan lokal yang telah lama menjabat, termasuk di antara korban tewas setelah datang ke lokasi untuk membantu warga.

Serangan di Bucha terjadi ketika Kyiv menghadapi gelombang serangan udara Rusia selama lebih dari dua hari. Berdasarkan penghitungan CNN, sebanyak 28 peringatan serangan udara dikeluarkan sejak Kamis tengah malam hingga Sabtu siang dengan total durasi lebih dari 28 jam.

Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan seorang anak perempuan berusia dua tahun yang mengalami luka serius dalam salah satu serangan pada Sabtu meninggal dunia akibat luka-lukanya. Lima orang lainnya dilaporkan terluka di berbagai wilayah kota.

Serangan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain Ukraina, termasuk Odesa, Dnipro, Zaporizhzhia, Sumy, Kherson, Kharkiv, Mykolaiv, Donetsk, dan Chernihiv. Zelensky mengatakan lebih dari 260 drone serang dikerahkan dalam gelombang serangan tersebut, termasuk drone Banderol.

Dalam beberapa hari terakhir, Rusia disebut semakin banyak menggunakan drone bertenaga jet. Jenis drone yang mulai terdeteksi sekitar awal tahun tersebut mampu terbang dengan kecepatan hingga 500 kilometer per jam sehingga lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara Ukraina.

Wakil Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Pavlo Palisa mengatakan Rusia telah meningkatkan penggunaan kendaraan udara nirawak atau UAV bertenaga jet secara signifikan dan jumlahnya diperkirakan terus bertambah karena dinilai efektif.

Menurut Palisa, Ukraina perlu menyesuaikan sistem pertahanannya untuk menghadapi ancaman tersebut. Namun, drone pencegat yang saat ini dimiliki Ukraina belum menunjukkan efektivitas yang diharapkan untuk menghadapi drone bertenaga jet.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...