Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengatakan Washington akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran sebagai bagian dari upaya isolasi ekonomi besar-besaran. Ia mengatakan Amerika Serikat akan melibatkan seluruh sekutunya dan meminta negara-negara tersebut memilih antara bekerja sama dengan Washington atau tetap melakukan transaksi dengan Iran. Negara yang tetap mentransfer uang, membeli minyak Iran, atau membantu pengiriman melalui jalur laut disebut akan menghadapi tindakan tegas dari Pemerintah AS.
Bessent mengatakan tekanan ekonomi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan pemerintah Iran untuk membiayai militer dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya.
Menurutnya, penerapan sanksi dapat memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian Iran, termasuk meningkatkan harga pangan dan inflasi. Di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendorong penurunan harga minyak setelah pasar energi sebelumnya mengalami tekanan akibat gangguan di Selat Hormuz. Washington menilai tekanan ekonomi sebagai cara untuk membatasi kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di kawasan.
Ketegangan ekonomi tersebut terjadi ketika proses diplomasi antara AS dan Iran mengalami kebuntuan. Kedua negara sebelumnya menyepakati gencatan senjata pada April dan menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 17 Juni untuk memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, pembicaraan terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan salah satu jalur strategis utama bagi perdagangan dan pasokan energi dunia.
Hubungan kedua negara juga kembali memanas setelah terjadinya serangkaian serangan militer. Amerika Serikat menyerang sejumlah sasaran di wilayah Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Situasi tersebut meningkatkan risiko eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Ancaman sanksi ekonomi baru dari Washington kini menambah tekanan terhadap Iran sekaligus memperbesar ketidakpastian terhadap stabilitas ekonomi dan energi global.
Alexander Jason – Redaksi

