Health National

59 Tenaga Kesehatan Indonesia Lulus Pelatihan Epidemiologi Lapangan FETP Frontline

Sebanyak 59 tenaga kesehatan Indonesia menyelesaikan pelatihan Field Epidemiology Training Program (FETP) Frontline Angkatan 11 dan 12 di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan, Ciloto, Jawa Barat.

Pelatihan yang berlangsung pada Mei hingga September 2026 tersebut didukung melalui kegiatan Global Health Security (GHS) Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Para peserta berasal dari sejumlah Puskesmas di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Selama mengikuti pelatihan, mereka mendapatkan pembekalan berbasis lapangan yang mencakup investigasi wabah, surveilans, serta analisis data untuk memperkuat kemampuan deteksi dan respons terhadap ancaman kesehatan masyarakat.

Kompetensi tersebut turut mendukung target 7-1-7 Indonesia, yakni mendeteksi ancaman kesehatan dalam tujuh hari, melaporkannya dalam satu hari, serta memberikan respons dalam tujuh hari.

Kepala Unit Kesehatan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Eni Martin, mengatakan kelulusan tersebut bukan sekadar menandai berakhirnya program pelatihan, tetapi juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan masyarakat.

“Hari ini, kita tidak sekadar menutup sebuah program pelatihan; kita meluluskan 59 penjaga kesehatan masyarakat yang berada di garis depan,” ujar Eni Martin.

Menurut Eni, para lulusan memiliki peran penting dalam mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan secara cepat dan tepat. Ia menilai pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat.

Program FETP Frontline juga menjadi bagian dari kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia di bidang keamanan kesehatan. Pelaksanaannya melibatkan Kementerian Kesehatan, BBPK Ciloto, serta dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, dengan dukungan teknis berkelanjutan dari CDC Indonesia.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Sumarjaya, mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan, tetapi juga dari kemampuan peserta menerapkan kompetensi yang diperoleh dalam pelayanan kesehatan.

“Keberhasilan program FETP Frontline tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan oleh para peserta, tetapi juga dari sejauh mana kompetensi yang mereka peroleh dapat diterapkan untuk meningkatkan surveilans secara nyata serta memperkuat kemampuan kita dalam mendeteksi, melaporkan, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat secara lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan pelatihan dan bergabung dengan Asosiasi Epidemiolog Lapangan Indonesia, para lulusan kembali bertugas di sejumlah wilayah, termasuk Serang, Tangerang, Bogor, Bandung Barat, Surabaya, dan Malang.

Mereka diharapkan dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan untuk memperkuat sistem surveilans serta kesiapsiagaan kesehatan di tingkat layanan terdepan. Dukungan melalui program tersebut diarahkan untuk membantu Indonesia meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi, melaporkan, dan merespons berbagai ancaman kesehatan masyarakat.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...