Arus minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan pemulihan signifikan meski konflik Iran masih berlangsung. Lebih dari 17 juta barel minyak diangkut melalui jalur strategis tersebut pada Senin, menjadi volume tertinggi sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, bahkan menyebut total ekspor kawasan akan lebih tinggi jika aliran melalui pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) ikut diperhitungkan. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati Selat Hormuz.
Wright menilai kemampuan Iran menggunakan gangguan pasokan energi sebagai alat tekanan terhadap ekonomi global mulai melemah. Militer Amerika Serikat kini membantu kapal tanker melewati selat tersebut melalui koridor pelayaran yang dibentuk di sepanjang pesisir Oman.
Kapal tanker dari negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk dilaporkan kerap berlayar pada malam hari dengan transponder dimatikan untuk mengurangi risiko serangan. Pemerintah AS juga mengklaim memiliki data ekspor yang lebih lengkap dibandingkan perusahaan pelacak kapal independen karena sebagian pelayaran dilakukan secara rahasia.
Perkembangan tersebut turut memengaruhi pasar energi global yang sebelumnya sempat menghadapi lonjakan harga akibat konflik. Harga minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar satu persen pada Rabu, meski kontrak berjangka sebelumnya sempat mendekati 90 dolar AS per barel ketika serangan antara AS dan Iran kembali terjadi.
Wright menegaskan bahwa minyak dan gas dari kawasan Teluk akan terus mengalir meskipun Iran berupaya mengganggu jalur pelayaran. Namun, keberlanjutan arus tersebut tetap bergantung pada kemampuan militer AS menjaga keamanan koridor dan melindungi kapal tanker.
Iran sendiri masih berusaha menekan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dengan berulang kali menyerang kapal tanker. Teheran juga meminta kapal komersial menggunakan koridor utara yang melewati wilayah perairannya, sehingga meningkatkan ketegangan terhadap jalur perdagangan energi tersebut.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga yang memantau keamanan pelayaran, melaporkan sedikitnya dua kapal tanker diserang di Selat Hormuz pada pekan ini. Dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia secara historis melewati kawasan tersebut, setiap gangguan keamanan tetap berpotensi memberikan tekanan besar terhadap harga energi dan ekonomi global.
Alexander Jason – Redaksi

