Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan setelah pasukan AS menghantam dua peluncur roket di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Senin (31/8). Serangan pertama AS yang diketahui terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli itu menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya, sebelum Teheran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pihaknya mengambil “tindakan terbatas dan presisi” setelah mengamati Iran bersiap meluncurkan roket dan menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan serangan AS menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. IRGC kemudian menjanjikan “respons dan hukuman” atas serangan tersebut.
Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan serangan terhadap Pulau Larak dilakukan menggunakan drone. Beberapa jam kemudian, IRGC menyatakan telah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di King Hussein dan Al-Azraq, Yordania, menggunakan rudal balistik.
Militer Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat pada Senin pagi.
Televisi pemerintah Iran juga melaporkan militer Iran menargetkan Pangkalan Udara Al-Minhad di Uni Emirat Arab (UEA) menggunakan drone. Namun, Kementerian Pertahanan UEA membantah laporan bahwa pangkalan tersebut menjadi sasaran dan menyebutnya tidak berdasar.
Meski membantah adanya serangan terhadap Pangkalan Udara Al-Minhad, UEA mengonfirmasi telah menembak jatuh sebuah drone.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras serangan militer AS terhadap Pulau Larak. Teheran menyebut serangannya terhadap pangkalan di Yordania sebagai bentuk pertahanan yang sah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan negaranya tidak menginginkan perang, tetapi akan memberikan respons tegas terhadap setiap serangan.
“Kami tidak mencari perang, tetapi kami akan memberikan respons tegas kepada para agresor,” kata Pezeshkian dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, seperti dilansir AFP.
Serangan AS kali ini menjadi serangan pertama yang diketahui terhadap Iran sejak Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara kampanye militer yang kembali dilancarkan pada akhir Juli.
Pulau Larak berada di lepas pantai pelabuhan utama Bandar Abbas dan terletak di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sebelum perang dimulai, sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut.
Sejak konflik dimulai pada Februari, Selat Hormuz secara efektif ditutup dan memicu fluktuasi tajam harga minyak di pasar dunia. Iran saat ini mewajibkan kapal tanker melewati Pulau Larak untuk menjalani pemeriksaan dan dilaporkan meminta kapal membayar sekitar 2 juta dolar AS untuk melintas.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk dan secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas laut.
Trump pekan lalu mengatakan seluruh ranjau yang ditempatkan Iran di Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Ia juga memperingatkan setiap kapal yang mencoba menempatkan ranjau baru akan dihancurkan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi membantah klaim Trump dan menyebutnya sebagai bentuk propaganda.
Ketegangan militer terbaru juga terjadi di tengah tekanan ekonomi baru terhadap Teheran. Washington pada 24 Agustus mengumumkan kampanye sanksi baru yang bertujuan semakin mengisolasi Iran dan memperluas sanksi sekunder terhadap sekutunya.
AS juga masih menjalankan blokade laut terhadap Iran yang berdampak pada kemampuan Teheran mengekspor minyak. CENTCOM mengatakan pada Sabtu pihaknya telah melumpuhkan tiga kapal, menaiki dua kapal, dan mengalihkan 82 kapal sebagai bagian dari operasi blokade tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

