Amerika Serikat tidak menerbitkan visa bagi sejumlah anggota tim media yang mendampingi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam kunjungannya ke New York untuk menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Penolakan visa tersebut disampaikan pejabat Iran menjelang keberangkatan Pezeshkian ke New York. Direktur Jenderal Hubungan Masyarakat Kepresidenan Iran, Habibollah Abbasi, mengatakan perkembangan mengenai agenda dan pertemuan bilateral Pezeshkian tetap akan disampaikan kepada masyarakat Iran meski tim medianya tidak dapat ikut dalam perjalanan.
Kunjungan Pezeshkian ke New York dijadwalkan berlangsung selama lima hari, termasuk dua hari yang digunakan untuk perjalanan. Presiden Iran tersebut akan didampingi Kepala Staf Kepresidenan Iran, Mohsen Haji-Mirzaei, serta Wakil Kepala Protokol dan Upacara Kepresidenan, Seyyed Abbas Mousavi.
Selama berada di New York, Pezeshkian dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pemimpin yang menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB. Agenda tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertemuan bilateral Iran di sela-sela forum internasional tersebut.
Penolakan terhadap tim media Iran dapat memengaruhi akses langsung media pendamping presiden terhadap rangkaian kegiatan selama kunjungan. Meski demikian, Abbasi mengatakan masyarakat Iran tetap akan memperoleh informasi mengenai pertemuan bilateral yang dijalani Pezeshkian.
Pemerintah Iran kemungkinan mengandalkan saluran komunikasi resmi untuk menyampaikan perkembangan agenda presiden selama berada di Amerika Serikat. Situasi tersebut menunjukkan bahwa aspek diplomatik dan komunikasi publik turut berlangsung di tengah hubungan bilateral yang sedang tegang.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, otoritas Amerika Serikat belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan penolakan permohonan visa tim media Presiden Iran. Karena itu, informasi mengenai dasar keputusan tersebut masih menunggu keterangan dari pihak Amerika Serikat.
Kunjungan Pezeshkian sendiri tetap dijadwalkan berlangsung untuk menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada agenda pertemuan presiden Iran serta respons kedua negara terhadap persoalan visa tersebut.
Alexander Jason – Redaksi

