Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Blora, Jawa Tengah, menyusul dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa SMA Negeri 1 Tunjungan.
Wakil Kepala BGN, Trenggono, mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPI) Sukorejo 2 Ahmad Afif setelah menemukan pengelolaan dapur tidak berjalan sesuai standar. Selain pencopotan, BGN menjatuhkan sanksi berat berupa penghentian sementara atau suspensi operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap standar keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program MBG.
Tindakan itu diambil setelah Trenggono melakukan pemeriksaan langsung terhadap SPPG Sukorejo 2 yang berada di kompleks perumahan. Dari hasil pemeriksaan, ia menilai banyak ketentuan dalam Standard Operating Procedure (SOP) tidak dijalankan oleh pengelola dapur.
Pemeriksaan dilakukan secara langsung untuk mengevaluasi kondisi fasilitas dan pelaksanaan prosedur setelah muncul laporan dugaan keracunan. Awak media tidak diperbolehkan mengikuti proses pemeriksaan di dalam SPPG tersebut.
Kasus ini bermula ketika ratusan siswa SMA Negeri 1 Tunjungan diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Senin. Para siswa dilaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan, mulai dari pusing dan mual hingga diare setelah menyantap makanan tersebut.
Hingga kini, tiga siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat kejadian tersebut. Peristiwa ini kemudian mendapat perhatian serius karena menyangkut keamanan makanan yang dikonsumsi pelajar melalui program pemerintah.
Satgas MBG Kabupaten Blora sebelumnya juga telah mengusulkan agar operasional SPPG Sukorejo 2 dihentikan setelah kejadian tersebut. Keputusan BGN untuk memberikan suspensi memperlihatkan bahwa dugaan pelanggaran prosedur tidak dipandang sebagai persoalan administratif semata.
Pengawasan terhadap dapur MBG perlu diperketat agar standar kebersihan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan benar-benar dijalankan sebelum makanan sampai kepada penerima. Kejadian di Blora menjadi pengingat bahwa perluasan program MBG harus selalu diimbangi dengan pengawasan ketat demi melindungi kesehatan dan kepercayaan masyarakat.
Alexander Jason – Redaksi

