Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama 1-7 September 2026.
Perhatian khusus diberikan kepada dua kawasan perairan di Samudra Hindia yang diprakirakan memiliki cakupan awan Cumulonimbus sangat luas. Kedua wilayah tersebut adalah Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai dan Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias.
BMKG memasukkan kedua wilayah itu dalam kategori Frequent (FRQ), yang menunjukkan potensi cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Selain kategori Frequent, BMKG memprakirakan potensi awan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) di sejumlah wilayah. Kategori tersebut menunjukkan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus berada pada kisaran 50-75 persen.
Di Pulau Sumatra, wilayah yang masuk kategori Occasional meliputi Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sementara itu, di Kalimantan mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Potensi serupa juga diprakirakan terjadi di Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Di Papua, kategori Occasional meliputi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah.
Untuk wilayah perairan, potensi awan Cumulonimbus kategori Occasional antara lain terdapat di Laut Natuna Utara, Laut Sulawesi bagian barat, Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, serta sejumlah wilayah Selat Malaka dan Selat Makassar.
Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus perlu menjadi perhatian bagi aktivitas penerbangan dan pelayaran karena dapat berkaitan dengan kondisi cuaca yang signifikan, seperti hujan lebat, petir, serta peningkatan angin.
Kondisi tersebut juga terlihat dalam prakiraan cuaca maritim BMKG untuk Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai pada 2 September. Wilayah tersebut diprakirakan mengalami hujan petir dengan gelombang mencapai sekitar tiga meter.
BMKG meminta masyarakat dan pengguna jasa transportasi untuk terus memantau informasi cuaca terbaru, terutama ketika beraktivitas di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

