Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah dimanfaatkan lebih dari 89 juta penduduk hingga pertengahan 2026. Pemerintah menargetkan jumlah peserta program tersebut mencapai 130 juta jiwa hingga akhir tahun.
Program CKG mulai berjalan pada 10 Februari 2025 dan menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas akses pemeriksaan kesehatan sekaligus memperkuat deteksi dini penyakit di masyarakat.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati mengatakan penguatan pelaksanaan CKG dilakukan berdasarkan evaluasi terhadap program yang berlangsung sepanjang 2025.
Evaluasi tersebut mencakup kesiapan infrastruktur, ketersediaan alat kesehatan, hingga sistem pencatatan dan integrasi data kesehatan secara digital. Kemenkes menargetkan CKG menjangkau 130 juta jiwa pada 2026 atau sekitar 46 persen dari total populasi Indonesia.
“Capaian positif terus tercatat, dan hingga pertengahan 2026, lebih dari 89 juta penduduk telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis,” ujar Widyawati, dikutip dari keterangan Kemenkes yang diberitakan sejumlah media pada September 2026.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan awal Juli 2026. Kemenkes sebelumnya mencatat hingga 5 Juli 2026 sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui program CKG. Pada saat itu, pemerintah masih menargetkan 130 juta peserta hingga akhir 2026.
Selain memperluas jumlah peserta, pelaksanaan CKG pada 2026 mulai diarahkan pada tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan. Kemenkes menyebut sejak 2026 program tersebut memasuki tahap tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Dengan target 130 juta peserta, pemerintah masih perlu menjangkau puluhan juta penduduk lainnya hingga akhir 2026. Penguatan fasilitas layanan, ketersediaan alat kesehatan, sistem pencatatan digital, serta pemerataan akses menjadi bagian dari evaluasi pemerintah untuk memperluas cakupan program.
Melalui CKG, pemerintah berupaya mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sehingga risiko penyakit dapat diketahui lebih awal dan ditindaklanjuti sesuai kondisi masing-masing.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

