Kereta diplomatik yang membawa mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan sejumlah pejabat Eropa diduga menjadi sasaran serangan drone Rusia di dekat perbatasan Ukraina-Polandia.
Serangan terjadi di sekitar Stasiun Yahodyn, wilayah Volyn, Ukraina, pada Minggu (13/9/2026). Saat itu, kereta diplomatik yang membawa Johnson, mantan Perdana Menteri Swedia Carl Bildt, serta sejumlah penasihat keamanan dari negara-negara Eropa telah meninggalkan stasiun.
Perusahaan kereta api Ukraina menyebut terdapat kemungkinan serangan tersebut memang menyasar kereta diplomatik yang membawa para pejabat dan penasihat keamanan. Kereta juga dilaporkan berangkat lebih awal dari jadwal sebagai bagian dari penyesuaian perjalanan akibat ancaman serangan Rusia yang masih berlangsung.
Dikutip dari The Guardian, Senin (14/9/2026), belum ada kepastian mengenai siapa yang secara langsung menjadi sasaran serangan tersebut. Rusia diduga berada di balik serangan, tetapi hingga kini belum memberikan tanggapan mengenai tudingan tersebut.
Boris Johnson mengaku tidak mengetahui alasan di balik serangan itu. Namun, ia mengecam serangan yang mengenai lokomotif Ukraina yang sedang berada di dekat perbatasan Polandia.
Melalui akun X, Johnson menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang acak dan tidak masuk akal. Ia juga menyoroti kondisi warga Ukraina yang disebut menghadapi serangan serupa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menggunakan jalur kereta api sipil.
Tidak ada korban jiwa dari kereta yang membawa Johnson dan Petraeus tersebut. Meski begitu, situasi di sekitar perbatasan sempat membuat para penumpang harus beberapa kali melakukan evakuasi.
Katerina Sergatskova, Direktur Daily Humanity, merupakan salah satu penumpang dalam kereta menuju Warsawa. Ia mengatakan para penumpang diminta mengungsi sekitar pukul 09.00 ketika kereta mendekati perbatasan Polandia.
Sebelumnya, para penumpang juga sempat diminta turun dari kereta dan menunggu selama sekitar dua jam pada tengah malam. Perintah evakuasi kemudian kembali diberikan dan penumpang diminta bergerak dengan cepat.
Sergatskova mengatakan dirinya kemudian mendengar suara drone. Ia menyebut pengalaman melihat dan mendengar drone Shahed hanya beberapa ratus meter dari perbatasan sebagai situasi yang sangat tidak menyenangkan.
Penumpang lain, seorang ekonom asal Inggris yang tidak ingin disebutkan namanya, juga menceritakan situasi tersebut. Ia sedang melakukan perjalanan menggunakan kereta malam dari Kyiv menuju Chelm, Polandia.
Menurut ekonom tersebut, perjalanan mereka berlangsung selama 10 jam di perbatasan dan penumpang harus menjalani evakuasi sebanyak tiga kali. Dalam evakuasi terakhir, ia mengatakan sebuah rudal melintas dan menghantam lokomotif yang berada di depan kereta mereka.
Petugas kemudian mengarahkan para penumpang untuk berlindung di area semak-semak dekat sebuah danau. Ia menilai respons petugas Ukraina berlangsung tepat waktu dan disiplin karena penumpang telah mendapatkan peringatan mengenai kemungkinan evakuasi.
Sebelum perjalanan dimulai, kondektur juga telah mengingatkan penumpang mengenai kemungkinan mereka harus dievakuasi selama perjalanan akibat tingginya risiko serangan. Serangan di kawasan tersebut menjadi bagian dari serangan besar-besaran yang melanda berbagai wilayah Ukraina. Dalam serangan semalam, Rusia dilaporkan meluncurkan lebih dari 450 drone dan rudal.
Sedikitnya enam orang tewas dan lebih dari 40 lainnya terluka akibat serangkaian serangan tersebut. Angkatan Udara Ukraina menyatakan telah mencegat 405 drone dan empat rudal.
Wilayah Ukraina bagian barat turut terdampak, meski kawasan tersebut selama ini relatif lebih tenang dibandingkan Kyiv maupun wilayah garis depan di bagian timur.
Serangan juga memicu peringatan serangan udara di Polandia yang berbatasan langsung dengan Ukraina bagian barat. Otoritas Ukraina dan Polandia menyebut sebuah truk yang berada kurang dari satu kilometer dari perlintasan perbatasan Dorohusk-Yahodyn turut terkena serangan.
Sementara itu, seorang ibu dan anaknya yang berusia delapan tahun menjadi salah satu penumpang yang mengalami situasi tersebut. Keduanya diketahui rutin bepergian antara Warsawa dan Kyiv setiap bulan sejak 2022.
Namun, menurut keterangan ekonom Inggris tersebut, mereka belum pernah mengalami evakuasi maupun serangan terhadap kereta selama perjalanan sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya peningkatan eskalasi dalam serangan Rusia.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

