Emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia dilaporkan melonjak hingga 429 persen di atas rata-rata musiman. Berdasarkan pemantauan iklim Uni Eropa melalui Copernicus, emisi karbon dari kebakaran dalam sepekan terakhir mencapai 17,1 juta ton.
Lonjakan tersebut dikaitkan dengan fenomena El Niño ekstrem yang meningkatkan suhu udara dan memperparah kondisi kekeringan. Situasi ini kemudian mendorong penyebaran titik api secara masif di berbagai wilayah Indonesia.
Intensitas emisi kebakaran tercatat mencapai 1.302 kilogram per kilometer persegi, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat emisi kebakaran tertinggi di dunia setelah Rusia. Kebakaran yang berlangsung selama beberapa pekan telah memusnahkan hampir 95 ribu hektare lahan sepanjang Juli.
Asap tebal yang dihasilkan bahkan mulai melintasi batas negara dan mencapai wilayah Malaysia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan domestik, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas negara.
Pemerintah bersama Satuan Tugas atau Satgas Karhutla terus melakukan penanganan melalui operasi Modifikasi Cuaca atau OMC serta pemadaman dari darat. Operasi tersebut diprioritaskan di kawasan rawan, terutama lahan gambut di Kalimantan dan Sumatra yang memiliki cadangan karbon besar.
Layanan pemantauan Sipongi milik Kementerian Kehutanan mencatat lebih dari 9.000 titik api atau hotspot sepanjang Agustus. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Lonjakan emisi karhutla semakin memperbesar tekanan terhadap upaya penanganan krisis iklim global. Kebakaran di lahan gambut menjadi perhatian khusus karena dapat melepaskan simpanan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Pemerintah perlu memperkuat mitigasi, pencegahan, serta pengawasan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Selain menekan emisi gas rumah kaca, langkah tersebut juga penting untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga keberlanjutan ekosistem dari dampak kabut asap dan kebakaran.
Alexander Jason – Redaksi

