World

Harga Diesel AS Tembus Rekor US$5,85 per Galon di Tengah Perang Iran

Harga rata-rata diesel di Amerika Serikat (AS) pada Jumat (4/9), melonjak ke rekor US$5,85 per galon di tengah perang AS-Israel dengan Iran yang terus mendorong kenaikan harga minyak dan biaya bahan bakar.

Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga tersebut jauh di atas rata-rata US$3,71 per galon pada tahun lalu dan telah melampaui rekor sebelumnya yang tercatat setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

Dilansir dari BBC, harga bahan bakar di AS meningkat tajam sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari, sejalan dengan lonjakan harga minyak di pasar grosir.

Diesel di AS terutama digunakan oleh kendaraan komersial, termasuk truk, kereta api, kapal, bus, kendaraan pertanian, dan alat berat konstruksi. Kenaikan harga diesel karena itu berpotensi memberikan tekanan lebih luas terhadap biaya transportasi dan berbagai kegiatan ekonomi.

Selain diesel, masyarakat AS juga menghadapi harga bensin yang berada pada level historis tinggi. Harga rata-rata bensin telah mencapai US$4,15 per galon, naik dari US$3,20 pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, besarnya kenaikan berbeda di setiap wilayah. Berdasarkan data AAA, negara-negara bagian di wilayah barat AS membayar harga lebih tinggi karena perbedaan pajak serta jaraknya dari produsen minyak domestik.

Di Washington, misalnya, harga rata-rata diesel telah mencapai US$6,81 per galon, dibandingkan US$5,03 per galon setahun sebelumnya.

Kenaikan harga bahan bakar terjadi ketika pasokan minyak dunia mengalami tekanan akibat konflik dengan Iran. Teheran merespons perang dengan secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dalam kondisi normal dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Di tengah kenaikan tersebut, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini berjanji akan menurunkan harga bensin secara signifikan bagi masyarakat Amerika melalui kesepakatan minyak dengan Venezuela.

Kesepakatan terbaru yang diumumkan pada Sabtu mencakup rencana pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan potensi cadangan terbukti mencapai 65 miliar barel. Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan kesepakatan itu juga mencakup investasi lebih dari US$100 miliar serta potensi penerimaan pajak lebih dari US$209 miliar bagi Venezuela.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada CBS News bahwa pemerintah AS akan mempertahankan kendali sebesar 55 persen dalam usaha patungan dengan sebuah perusahaan swasta berpengalaman yang beroperasi di Venezuela.

Kesepakatan tersebut muncul setelah mantan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro ditangkap pasukan khusus AS dalam operasi yang mendapat otorisasi Trump pada Januari.

Meski demikian, sejumlah analis meragukan apakah kesepakatan minyak tersebut mampu mengatasi berbagai hambatan jangka panjang yang selama ini mengurangi minat investasi di industri minyak Venezuela.

Lonjakan harga bahan bakar juga menjadi persoalan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada November. Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan terhadap Trump turun menjadi 33 persen, sementara hanya 31 persen warga AS yang menyatakan mendukung konflik tersebut.

Dengan harga diesel dan bensin yang terus berada pada level tinggi, dampak ekonomi perang dengan Iran kini semakin terasa bagi masyarakat AS, sementara pemerintah berupaya meningkatkan pasokan energi untuk meredakan tekanan harga bahan bakar.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...