World

Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Yordania dan Kuwait Usai Serangan di Sirik

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Teheran melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap kepentingan AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Irak pada Rabu (2/9/2026).

Serangan tersebut merupakan respons atas operasi militer AS sehari sebelumnya yang menurut pejabat Iran menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk seorang anak, dan melukai puluhan lainnya di wilayah Sirik, Provinsi Hormozgan. Korban dilaporkan jatuh setelah pecahan peluru menghantam sebuah rumah ketika perayaan pernikahan sedang berlangsung di Kota Kuhestak. Iran menyatakan serangan tersebut memperkuat alasan bagi Teheran untuk memberikan respons militer terhadap Washington.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik terhadap Pangkalan Korps Marinir AS Camp Titin di Yordania, sementara rudal dan drone juga dilaporkan digunakan dalam serangan terhadap Kuwait.

Tentara Yordania mengatakan telah mencegat 10 rudal balistik yang ditembakkan dari Iran, sedangkan tiga rudal lainnya jatuh di wilayah terpencil. Tidak ada korban luka yang dikonfirmasi oleh Yordania, termasuk dari kamp pelatihan AS di Teluk Aqaba. Di Bahrain, sirene peringatan serangan udara terdengar pada Rabu pagi ketika ketegangan regional semakin meningkat.

Sebelumnya, militer AS mengatakan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran dilakukan sebagai respons terhadap upaya IRGC menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika di kawasan tersebut. Sasaran yang diklaim dihantam meliputi sistem pertahanan udara, radar, fasilitas maritim, kemampuan peletakan ranjau, dan sejumlah fasilitas komunikasi Iran.

Washington membantah menargetkan warga sipil dalam serangan di Sirik, sementara Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai tindakan balasan terhadap upaya Iran menanam ranjau laut di Selat Hormuz. Konflik juga semakin kompleks setelah dua kapal tanker minyak dilaporkan terkena proyektil, meskipun belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Selat Hormuz kini menjadi salah satu pusat utama perseteruan karena jalur sempit tersebut biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak dunia. Iran secara efektif menutup selat itu sejak perang dengan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, sementara Washington mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Rangkaian serangan terbaru menunjukkan bahwa permusuhan yang sempat mereda selama sekitar satu bulan kembali berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan fasilitas militer dan pelayaran komersial. Dengan kedua negara masih mempertahankan posisi masing-masing, risiko eskalasi konflik di kawasan serta gangguan terhadap jalur energi global semakin menjadi perhatian.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...