Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta pemerintah daerah di Sulawesi Selatan memprioritaskan persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), dibanding menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan alasan menghemat penggunaan BBM.
Tito menilai, kekurangan stok BBM seharusnya diselesaikan dengan memastikan pasokan mencukupi. Menurutnya, PJJ bukan solusi yang tepat jika alasan penerapannya hanya untuk mengurangi konsumsi BBM.
“Saya belum tahu kalau yang ini, PJJ karena menghemat BBM. Kalau memang ada, harusnya stok BBM-nya ditambah dahulu,” kata Tito di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Tito, pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan yang lebih baik selama kondisi lingkungan aman. Interaksi langsung antara guru dan siswa dinilai memberikan proses belajar yang lebih efektif karena melibatkan komunikasi secara fisik dan visual.
Ia menjelaskan bahwa PJJ dapat diterapkan apabila terdapat keadaan yang berpotensi mengganggu kesehatan maupun keselamatan peserta didik dan masyarakat. Dengan demikian, kondisi lingkungan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan apakah pembelajaran harus dilakukan secara daring.
Tito mencontohkan situasi ketika terjadi erupsi gunung api. Jika abu vulkanik dalam jumlah banyak menyebar di suatu wilayah, aktivitas siswa di luar ruangan dapat berisiko terhadap kesehatan. Paparan abu tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga membahayakan mata.
“Kita memperbolehkan beberapa tempat yang abunya banyak, kalau anak-anak keluar akan kena ISPA dan lain-lain, berbahaya bagi mata, maka boleh melakukan pembelajaran jarak jauh (online),” ujar Tito.
Selain erupsi gunung api, kondisi tertentu akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla juga dapat menjadi alasan penerapan PJJ. Kebijakan tersebut dapat diberlakukan apabila asap atau kondisi lingkungan di wilayah tertentu sudah membahayakan kesehatan dan keselamatan.
Tito menyebut PJJ sebelumnya pernah diterapkan secara terbatas di sejumlah wilayah setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Penerapan pembelajaran jarak jauh kemudian dihentikan setelah kondisi cuaca dan lingkungan kembali dinilai aman.
Bagi Tito, penerapan PJJ harus memiliki alasan yang berkaitan dengan kondisi darurat, bukan sekadar untuk melakukan penghematan. Ia mengatakan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan selama lingkungan masih memungkinkan dan aman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
“Kalau aman, ya fisik. Kalau enggak aman, penyakit, kesehatan, jalanan gelap, jarak pandang sulit, boleh PJJ,” kata Tito.
Ia kembali menekankan bahwa apabila persoalan di Sulawesi Selatan memang berkaitan dengan ketersediaan BBM, pemerintah daerah perlu berfokus menyelesaikan masalah tersebut. Penambahan stok BBM dinilai lebih tepat daripada mengubah metode pembelajaran hanya dengan pertimbangan penghematan bahan bakar.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

