Pemerintah menambah anggaran belanja tak terduga (BTT) bagi pemerintah daerah yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tambahan tersebut disiapkan untuk membantu penanganan warga, termasuk mereka yang masih berada di pengungsian.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan setiap kabupaten dan kota terdampak memperoleh tambahan BTT sebesar Rp20 miliar. Sementara itu, pemerintah provinsi mendapat tambahan anggaran sebesar Rp40 miliar.
“Kepala daerah selama ini kan sudah diberikan bantuan. Tambahan BTT masing-masing Rp20 miliar untuk kabupaten kota dan Rp40 miliar (untuk) provinsi,” kata Tito di Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).
Tito meminta pemerintah daerah memanfaatkan tambahan anggaran tersebut untuk mendukung kebutuhan warga selama masa penanganan bencana, terutama masyarakat yang masih tinggal di lokasi pengungsian.
Penanganan para pengungsi saat ini dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno. Kementerian Kesehatan juga dilibatkan dalam penanganan warga terdampak.
Pemberian tambahan anggaran ini juga menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai warga yang meninggal ketika berada di pengungsian. Tito mengatakan penyebab kematian perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dikaitkan dengan kondisi pelayanan di lokasi pengungsian.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan apakah kematian tersebut disebabkan penyakit, faktor usia, atau kondisi lain. Jika ditemukan kematian yang berkaitan dengan penanganan yang kurang layak, pemerintah daerah diminta melakukan evaluasi dan menggunakan anggaran yang tersedia untuk memperbaiki pelayanan.
“Saya akan cek ini sebelum saya jawab, daripada saya ngarang-ngarang jawab,” ujar Tito.
Sebelumnya, BNPB mencatat 94 orang meninggal dunia ketika berada di pengungsian. Angka tersebut merupakan korban meninggal secara tidak langsung. Sementara korban yang meninggal akibat dampak langsung gempa tercatat 48 orang.
Dengan demikian, total korban meninggal yang berkaitan dengan bencana gempa NTT mencapai 142 orang.
Tito belum memastikan apakah terdapat korban yang meninggal akibat keterbatasan penanganan maupun akses layanan kesehatan di pengungsian. Ia mengatakan akan meminta penjelasan dari pemerintah daerah sebelum memberikan kesimpulan mengenai penyebab kematian para korban.
Sebelumnya, anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian juga meminta evaluasi terhadap perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi warga di pengungsian pascagempa Flores.
Berdasarkan verifikasi BNPB dan Kementerian Kesehatan, sebagian besar dari 94 korban yang meninggal di pengungsian merupakan warga lanjut usia dengan penyakit kronis, termasuk stroke dan diabetes melitus.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

