World

Pemerintah Iran Berikan Opsi Pemulihan Akses Selat Hormuz Melalui Batas Waktu Sepekan

Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah persyaratan. Proposal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui mediator Qatar dalam rangkaian diplomasi di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Araghchi mengatakan proposal tersebut mengacu pada kerangka nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang sebelumnya dibahas Iran dan AS pada Juni. Menurut dia, sejumlah langkah yang diminta dari Washington bukan merupakan persyaratan baru, melainkan bagian dari kesepahaman yang telah dibicarakan sebelumnya.

Araghchi menjelaskan bahwa sejumlah langkah yang harus dilakukan AS bukanlah persyaratan baru, melainkan bagian dari kerangka yang sebelumnya telah dibahas dalam MoU Juni. Setelah Washington menerima proposal tersebut, Iran mengatakan tahapan pelaksanaan dapat dimulai dan pembukaan Selat Hormuz diikuti dengan dimulainya kembali pembicaraan mengenai isu-isu yang disepakati.

Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam negosiasi karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia dan gangguan terhadap lalu lintasnya berdampak pada pasar minyak internasional. Proposal Iran juga ditempatkan dalam konteks upaya menghentikan konflik serta memulihkan perundingan mengenai program nuklir Iran.

Namun, perkembangan diplomatik tersebut belum menghasilkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Presiden AS, Donald Trump, pada 26 September menyatakan telah menolak proposal Iran, sementara Araghchi kemudian mengatakan Iran masih menunggu posisi resmi AS yang disampaikan melalui mediator.

Kondisi ini menunjukkan bahwa rencana pembukaan Selat Hormuz tetap bergantung pada tercapainya kesepakatan mengenai persyaratan yang diajukan kedua pihak. Dengan demikian, meskipun Iran menyatakan kesiapan membuka kembali jalur tersebut dalam tujuh hari, tenggat itu belum berjalan karena Washington belum menerima proposal tersebut.

Perkembangan ini menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik utama dalam diplomasi Iran-AS sekaligus persoalan keamanan energi internasional. Bagi Iran, pembukaan jalur tersebut dikaitkan dengan penghentian tekanan militer dan ekonomi serta dimulainya kembali perundingan, sedangkan Washington masih mempertahankan posisi yang berbeda mengenai persyaratan penyelesaian konflik.

Jalur tersebut memiliki arti strategis bagi pasar energi karena sebagian besar perdagangan minyak dunia secara normal melewati kawasan tersebut, sehingga setiap gangguan dapat memengaruhi harga dan pasokan global. Untuk saat ini, proses diplomasi masih berlanjut melalui mediator, tetapi proposal tujuh hari yang diajukan Iran telah ditolak Trump dan belum menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...