PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dan produk BBM jenis diesel, berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter apabila harga minyak mentah dunia tetap berada di level tinggi.
Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9).
Eko mengatakan, harga BBM nonsubsidi berpeluang berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter apabila harga minyak mentah dunia masih berada pada level tinggi.
Menurut Eko, kondisi tersebut tidak terlepas dari krisis energi global yang semakin berat. Gejolak di Timur Tengah dinilai memberikan dampak yang lebih besar terhadap sektor energi dibandingkan konflik Rusia-Ukraina sebelumnya.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pemblokiran Selat Hormuz akibat eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut turut memengaruhi ketersediaan energi sekaligus mendorong ketidakstabilan harga minyak dunia.
“Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya,” kata Eko.
Pertamina berharap harga minyak mentah dunia dapat kembali turun ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel seperti sebelum terjadi krisis geopolitik. Menurut Eko, penurunan harga minyak ke level tersebut diperlukan agar tekanan terhadap harga BBM dapat berkurang.
“Kalau berharap turun 70 dolar per barel atau 60 dolar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia masih berada di atas US$100 per barel. Mengutip Reuters, harga minyak Brent pada Jumat (11/9) naik US$1,05 atau sekitar 1 persen menjadi US$108,68 per barel.
Pada periode yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 95 sen atau sekitar 1 persen menjadi US$103,45 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut melanjutkan lonjakan pada perdagangan Kamis (10/9), ketika harga Brent dan WTI masing-masing meningkat lebih dari 6 persen.
Secara kumulatif dalam sepekan, harga Brent dan WTI tercatat melonjak mendekati 13 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 17 Juli lalu.
Meski Pertamina memproyeksikan harga BBM nonsubsidi berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter, angka tersebut masih berupa perkiraan dan bukan pengumuman harga baru. Harga BBM yang berlaku saat ini masih mengikuti ketentuan penyesuaian harga Pertamina.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

