Metropolitan

RW 12 Kelapa Gading Barat Bidik Penghargaan Tertinggi Trophy Proklim Utama Tingkat Nasional

RW 12 Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, mengikuti verifikasi Trophy Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori Utama tingkat nasional secara virtual. Wilayah ini sebelumnya telah melewati seleksi secara berjenjang mulai dari tingkat kota hingga provinsi sebelum masuk tahap penilaian nasional.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, mengatakan Trophy ProKlim Utama merupakan jenjang tertinggi sebelum suatu wilayah masuk kategori Lestari. Ia menilai RW 12 telah melalui proses panjang dengan persiapan yang dinilai lengkap untuk menghadapi verifikasi.

Mekanisme verifikasi ProKlim 2026 dilakukan secara virtual, dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terlebih dahulu memaparkan kesiapan dan program unggulan masing-masing wilayah. Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama tim verifikator Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melihat inovasi dalam adaptasi, mitigasi perubahan iklim, serta penguatan kelembagaan.

Perwakilan Tim Verifikator ProKlim 2026 KLH, Koko Wijanarko, menyebut RW 12 menjadi satu dari tiga wilayah DKI Jakarta yang diusulkan mengikuti penilaian Trophy ProKlim Utama. Dua wilayah lainnya adalah RW 05 Kelurahan Ragunan di Jakarta Selatan dan RW 09 Kelurahan Utan Kayu Selatan di Jakarta Timur, sementara hasil verifikasi akan dibahas lebih lanjut oleh tim.

Ketua RW 12 Kelurahan Kelapa Gading Barat, Masnur Suryadi, mengatakan berbagai program lingkungan di wilayahnya telah dijalankan secara konsisten sehingga persiapan menghadapi verifikasi lebih banyak berupa pemantapan dan koordinasi. Untuk menghadapi potensi banjir, RW 12 memiliki tiga penampung air hujan berkapasitas masing-masing 500 liter, dua sumur resapan, serta 26 biopori yang juga mendukung kegiatan urban farming.

Program lingkungan tersebut diperkuat dengan pengelolaan maggot, eco enzyme, kolam gizi, dan pengomposan, sementara upaya mitigasi mencakup 20 panel surya, penambahan tutupan vegetasi, serta Gerakan Pemilahan Sampah atau GPS. Sampah organik dikumpulkan melalui drop point untuk diolah menjadi kompos, sedangkan minyak jelantah dikumpulkan secara rutin dengan melibatkan kader PKK dan kader lingkungan.

Memasuki 2026, RW 12 juga mengembangkan Edu Trip sebagai sarana pendidikan lingkungan bagi anak-anak usia sekolah melalui praktik pemilahan sampah, urban farming, dan kegiatan lingkungan lainnya. Masnur mengatakan berbagai program tersebut dijalankan sebagai bagian dari kebiasaan warga sehari-hari, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan penilaian ProKlim.

Ia berharap upaya tersebut dapat menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini sekaligus memastikan praktik pengelolaan lingkungan tetap berkelanjutan. Bagi pengurus RW, keberhasilan program tidak hanya diukur dari peluang memperoleh penghargaan, tetapi dari kemampuan membangun kebiasaan baik yang terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...