World

Serangan AS-Iran dan Houthi Dorong Harga Minyak Melampaui US$100 per Barel

Harga minyak dunia menembus US$100 per barel pada Rabu (9/9/2026) setelah eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta berlanjutnya serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak dunia, mencapai level tertinggi sejak akhir Juli sebelum kembali turun ke sekitar US$99,90 per barel.

Dilansir dari BBC, kenaikan harga terjadi setelah AS menyerang lima kapal tanker Iran sebagai aksi balasan setelah Teheran menargetkan sebuah kapal perang AS dengan rudal balistik. Empat tanker yang diserang di Teluk Oman disebut terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sedangkan satu kapal lainnya berada di dekat Pulau Kharg.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan lima tanker tersebut merupakan bagian dari jaringan bernilai miliaran dolar yang digunakan untuk mendanai IRGC dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan. Salah satu kapal yang menjadi sasaran, M/T Riesco, kemudian tenggelam di Teluk Oman. CENTCOM juga membagikan rekaman yang memperlihatkan kapal tersebut dalam kondisi rusak.

Pulau Kharg memiliki posisi penting bagi industri energi Iran karena menjadi lokasi terminal utama ekspor minyak negara tersebut. Sekitar 90 persen minyak mentah Iran melewati pulau di Teluk itu setelah dialirkan melalui jaringan pipa dari daratan utama.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke sebuah pangkalan AS di Yordania. Sebagian besar rudal tersebut berhasil ditembak jatuh. Teheran juga mengklaim telah menyerang dua kapal AS dan delapan tanker minyak di Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru terjadi setelah Iran menargetkan sebuah kapal perang AS dengan rudal balistik. CENTCOM mengatakan kapal tersebut berhasil menghindari serangan dan tidak ada personel AS yang terluka.

Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi dan infrastruktur sipil di Arab Saudi pada Selasa (8/9). Menurut otoritas Saudi, serangan menggunakan drone dan rudal itu menyebabkan 73 orang terluka.

Serangan tersebut memicu kebakaran di sejumlah fasilitas dan instalasi minyak hingga menyebabkan penghentian sementara operasi. Otoritas Saudi menyebut beberapa lokasi sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran turut menjadi sasaran.

Houthi dan Arab Saudi telah saling melancarkan serangan sejak gencatan senjata informal antara kedua pihak runtuh pada Juli. Pada Senin (7/9), Houthi menuduh Arab Saudi mengebom sebuah penjara di Al-Hazm dan menewaskan 11 orang.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Washington akan terus merespons setiap upaya Iran menyerang kapal angkatan laut AS. Ia menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Kolombia pada Selasa.

Ketegangan juga meningkat setelah Angkatan Laut Iran mengklaim telah menyita kapal selam nirawak AS di Selat Hormuz. Juru bicara CENTCOM Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins mengatakan perangkat tersebut sebenarnya mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelumnya ketika digunakan untuk melakukan survei perairan regional.

Menurut Hawkins, perangkat itu merupakan model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia.

Konflik AS-Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi sejak pecah pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Sebelum konflik dimulai, harga Brent berada di kisaran US$70 per barel.

Perang tersebut kemudian menyebabkan Selat Hormuz secara efektif tertutup. Jalur perairan strategis itu dalam kondisi normal dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Harga minyak terus berfluktuasi tajam selama konflik berlangsung dan turut terdorong oleh ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah. Kenaikan biaya minyak juga telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar yang dibayarkan konsumen di berbagai negara.

Dengan serangan balasan antara AS dan Iran yang meningkat dalam sepekan terakhir serta konflik Houthi-Arab Saudi yang kembali memanas, perkembangan baru di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...