Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara tengah menyusun kajian sejarah kehidupan masyarakat Betawi Pesisir dari masa ke masa. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggabungkan penelusuran arsip, studi literatur, hingga wawancara dengan sejarawan, budayawan, dan masyarakat di kawasan pesisir.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Dya Perwita Kusuma, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian untuk menyusun kajian mengenai perjalanan masyarakat Betawi Pesisir di Jakarta Utara. FGD diikuti sekitar 35 peserta dari unsur Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, kecamatan, sejarawan, budayawan Betawi, tokoh masyarakat pesisir, akademisi, dan tim penulis.
Berbagai masukan diberikan untuk menyempurnakan naskah, termasuk mengenai identitas masyarakat, ritual dan tradisi, serta perkembangan bahasa Betawi Pesisir.
Penelitian berlangsung selama sekitar tiga bulan, dari 21 Juli hingga 21 Oktober 2026, dengan cakupan wilayah pesisir di lima kecamatan, yaitu Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja, dan Cilincing. Riset dilakukan melalui studi literatur, penelusuran arsip, serta wawancara dengan sejumlah narasumber.
Kajian mencakup mata pencaharian, tradisi maritim, kesenian, sistem kekerabatan, serta perubahan sosial dan budaya masyarakat Betawi Pesisir. Penelitian tersebut juga menyusun perkembangan masyarakat dan wilayah Jakarta Utara secara kronologis, mulai dari masa awal peradaban pesisir hingga periode kontemporer.
Untuk memperkuat validitas data, tim peneliti menelusuri sumber primer dan sekunder, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional, serta arsip museum di Belanda yang berkaitan dengan sejarah Batavia. Kajian juga mencakup toponimi atau asal-usul nama sejumlah wilayah pesisir, termasuk Cilincing dan Tanjung Priok. Sejumlah komunitas turut dilibatkan, salah satunya Komunitas Tempo Doeloe yang beranggotakan sejarawan, pemerhati budaya, dan pemandu wisata tersertifikasi. Rangkaian penelitian tersebut telah menghasilkan kumpulan data sejarah tertulis, masukan narasumber, validasi informasi, serta draf awal buku mengenai kehidupan Betawi Pesisir.
Buku tersebut ditargetkan memperoleh International Standard Book Number (ISBN) dan diluncurkan pada awal November 2026 melalui agenda peluncuran serta bedah buku. Kegiatan tersebut rencananya melibatkan pelajar SMA, komunitas sejarah, pegiat pariwisata, serta komunitas kearsipan dan perpustakaan.
Pemerintah berharap hasil kajian tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga dapat menjadi referensi yang terpercaya mengenai perkembangan masyarakat Betawi Pesisir di Jakarta Utara. Ke depan, kajian tersebut juga diharapkan membantu pemandu wisata memperkenalkan berbagai destinasi dan warisan sejarah di kawasan pesisir Jakarta.
Alexander Jason – Redaksi

