Puluhan warga Nepal yang terisolasi akibat banjir bandang mengantre selama berhari-hari untuk menyeberangi Sungai Trishuli menggunakan zip line darurat pada Jumat (4/9). Lebih dari sepekan setelah bencana terjadi, sejumlah jembatan dan akses jalan masih rusak sehingga warga di sejumlah desa terdampak kesulitan bepergian. Jalur tersebut menjadi salah satu cara bagi warga untuk kembali ke rumah mereka ketika akses darat masih belum dapat dilalui.
Dilansir dari Reuters, sejumlah warga terlihat menunggu giliran menggunakan kereta sederhana yang bergerak melalui kabel zip line untuk menyeberangi Sungai Trishuli.
Salah seorang warga yang selamat, Sujana Sunar, mengaku telah mengantre sejak Kamis, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyeberang. Perempuan berusia 40 tahun itu kemudian kembali pada Jumat sekitar pukul 05.00 waktu setempat.
Namun, ketika tiba di lokasi, sekitar 30 orang telah lebih dahulu berkumpul dan menunggu giliran menggunakan zip line.
Sunar mengatakan dirinya sudah cukup lama berada jauh dari desanya. Meski rumahnya masih berdiri, banyak rumah warga lain di desa tersebut telah hancur akibat banjir. Ia menggambarkan dirinya nyaris kehilangan nyawa ketika bencana terjadi dan kini hanya ingin kembali ke rumah setelah terpisah dari desanya selama lebih dari sepekan.
Perjalanan Sunar juga belum berakhir setelah berhasil menyeberangi sungai. Ia memperkirakan masih membutuhkan sedikitnya lima jam untuk mencapai desanya karena sejumlah jalan utama telah tersapu banjir.
Ketiadaan kendaraan pribadi semakin menyulitkan perjalanannya. Bahkan jika memiliki kendaraan, akses menuju desa tidak dapat ditempuh seperti biasa sehingga ia harus melewati kawasan hutan lebat menggunakan sepeda motor.
Upaya menyediakan akses sementara juga dilakukan di Devighat, Distrik Nuwakot. Sebuah platform zip line lainnya tengah dibangun di kediaman Arjun Lal Shrestha, warga yang menyerahkan rumahnya yang rusak untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut.
Shrestha mengatakan kerusakan akses membuat masyarakat di kedua sisi tidak dapat bepergian dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karena itu, ia berharap kontribusi tersebut dapat memberikan sedikit bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
Penggunaan zip line darurat menggambarkan besarnya persoalan akses yang masih dihadapi warga Nepal lebih dari sepekan setelah banjir bandang, terutama di kawasan yang kehilangan jembatan dan jalan utama akibat bencana.
Akbari Danico – Redaksi

