Warga Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, mengembangkan budi daya maggot sebagai salah satu cara mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Lurah Cipinang Melayu, Arroyantoro, mengatakan sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah organik setiap hari dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Rumah maggot saat ini tersedia di RW 11, RW 05, RW 12, RW 01, dan RW 10 sebagai lokasi pengolahan sekaligus budi daya. Program tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi sampah organik sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Sebelum digunakan sebagai pakan, sampah organik dimasukkan ke dalam tong berukuran jumbo untuk menjalani proses fermentasi selama dua hingga tiga hari. Proses tersebut dilakukan untuk mempercepat penguraian sampah sekaligus mengurangi bau tidak sedap.
Maggot yang telah berukuran besar kemudian sebagian dijual, sementara sebagian lainnya dibiarkan berkembang menjadi lalat dewasa untuk menghasilkan telur baru. Penjualan dilakukan sedikitnya setiap tiga hari dengan volume sekitar 40 hingga 50 kilogram, dengan harga Rp10 ribu per kilogram untuk eceran dan Rp7.000 untuk pembelian non-eceran.
Pengelolaan rumah maggot di Tempat Penampungan Sementara (TPS) RW 11 saat ini masih dilakukan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Pemerintah kelurahan berencana melibatkan warga secara langsung dengan memberikan pelatihan mengenai teknik budi daya maggot.Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di TPS, tetapi juga dapat dikembangkan oleh warga di lingkungan permukiman masing-masing.
Selain budi daya maggot, pengelolaan sampah dari sumber juga diperkuat melalui optimalisasi bank sampah dan biopori jumbo. Pelibatan masyarakat menjadi bagian penting karena pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada proses pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga pemilahan sejak dari sumbernya.
Warga setempat, Rudi, mendukung pengembangan budi daya maggot karena masih terdapat sampah yang dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang agar kegiatan pengurangan sampah memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat. Jika keterampilan budi daya dapat menyebar ke tingkat permukiman, program ini berpotensi memperluas pengolahan sampah organik sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Alexander Jason – Redaksi

