Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pembangunan industri hilir di Indonesia agar mampu menyerap produk setengah jadi hasil pengolahan nikel. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus merespons kelebihan pasokan nikel di pasar global.
Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi mengatakan pemerintah tengah mengkaji kemungkinan membatasi pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan atau smelter baru yang hanya menghasilkan produk setengah jadi.
Menurutnya, hilirisasi perlu diarahkan hingga menghasilkan produk jadi agar nilai tambah dari pengolahan sumber daya mineral dapat dinikmati lebih banyak di dalam negeri. Saat ini, sebagian produk smelter masih berada pada tahap pengolahan antara sebelum dapat digunakan untuk menghasilkan barang akhir.
Bahlil menyebut pasar nikel global mengalami kelebihan pasokan sekitar 2,5 juta ton dibandingkan tingkat konsumsinya. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengevaluasi rencana penambahan kapasitas smelter yang menghasilkan produk setengah jadi.
Pemerintah selanjutnya ingin mendorong tumbuhnya industri lanjutan yang dapat mengolah bahan baku tersebut menjadi produk jadi. Dengan begitu, hasil pengolahan nikel tidak seluruhnya harus diekspor, tetapi dapat diserap oleh industri domestik.
Di sisi lain, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat produksi nikel olahan nasional mencapai 2,5 juta ton pada 2025. Angka tersebut berasal dari berbagai produk antara, termasuk nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), matte, serta mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan kapasitas produksi fasilitas pemurnian nikel nasional pada 2025 mencapai 2,7 juta ton nikel. Produksi tersebut berasal dari jalur pengolahan pirometalurgi dan hidrometalurgi.
FINI memperkirakan produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 turun sekitar 3,5 hingga 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, produksi diproyeksikan kembali meningkat pada 2027 seiring penyelesaian sejumlah proyek hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL).
Proyek-proyek tersebut berfokus pada pengolahan nikel untuk kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi MHP yang mencapai 450.000 ton pada 2025 diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 900.000 ton pada akhir 2027, menurut perkiraan FINI.
Peningkatan kapasitas tersebut menunjukkan besarnya potensi industri pengolahan nikel Indonesia. Namun, rencana penguatan industri hilir menjadi penting agar pertumbuhan produksi diikuti kemampuan industri dalam negeri menyerap hasil pengolahan dan menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
