Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memanfaatkan teknologi dry ice atau es kering untuk membantu mengatasi lapisan inversi atmosfer yang memerangkap asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya ini dilakukan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di enam provinsi prioritas sebelum musim hujan diperkirakan tiba pada awal November 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, penerapan teknologi tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Thailand. Teknologi ini menjadi salah satu pendekatan yang diupayakan untuk mendukung penanganan karhutla, terutama di wilayah yang masih mengalami kebakaran intensif.
Menurut Teuku, asap di sejumlah wilayah terperangkap pada ketinggian hingga sekitar 7.000 kaki akibat lapisan inversi atmosfer. Kondisi tersebut menghambat pergerakan asap dan membatasi masuknya sinar matahari ke permukaan bumi.
“Lapisan inversi ini kita buka dengan menggunakan dry ice. Setelah terbuka, asapnya akan naik ke atas sehingga sinar matahari bisa masuk,” ujar Teuku.
Ia menjelaskan, masuknya sinar matahari berperan dalam meningkatkan penguapan dan mendukung pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut diperlukan agar operasi modifikasi cuaca dapat berjalan lebih optimal.
Tanpa dukungan kondisi atmosfer yang memadai, pembentukan awan hujan menjadi lebih sulit. Karena itu, BMKG berupaya mengatasi hambatan atmosfer tersebut untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak karhutla.
BMKG memfokuskan penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Teuku mengatakan, kondisi kebakaran di setiap wilayah berbeda. Riau dan Jambi relatif mulai terkendali seiring turunnya hujan. Sementara itu, sejumlah wilayah di Sumatera Selatan masih membutuhkan penanganan intensif karena musim hujan diperkirakan baru tiba pada awal November.
Di Kalimantan Barat, hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Namun, kawasan selatan provinsi tersebut masih menjadi perhatian. Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah, terutama di wilayah selatan yang dilaporkan masih mengalami kebakaran cukup parah.
“Untuk Sumatera Selatan, karena berada lebih ke selatan, masuknya musim hujan masih sekitar awal November. Jadi, masih perlu perjuangan selama dua minggu ke depan,” kata Teuku.
Ia menambahkan, BMKG terus mengupayakan berbagai langkah untuk mendatangkan hujan di wilayah prioritas sesuai arahan Presiden, sembari menghadapi kondisi cuaca yang belum mendukung pemadaman secara optimal.
Teuku menyebutkan, operasi pemanfaatan dry ice telah dilaksanakan di Sumatera Selatan dengan posko di Lampung. Sementara itu, operasi untuk wilayah Kalimantan Tengah didukung posko yang berlokasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat pembentukan awan hujan. Setelah lapisan inversi terbuka dan kondisi atmosfer mendukung, BMKG dapat melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang hujan di daerah terdampak.
Upaya ini terutama ditujukan untuk membantu penanganan kebakaran di lahan gambut maupun tanah mineral yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah prioritas.
Teuku menegaskan, percepatan penanganan karhutla diperlukan sebelum musim hujan alami tiba. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikannya, hujan di sejumlah wilayah yang masih terdampak diperkirakan mulai datang pada awal November 2026.
Pemanfaatan teknologi dry ice pun menjadi salah satu langkah yang ditempuh BMKG bersama para mitra untuk mendukung operasi modifikasi cuaca dan mempercepat penanganan karhutla di Indonesia.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi