Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji penggunaan es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Metode ini digunakan sebagai alternatif penyemaian awan untuk membantu menangani dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa dry ice memiliki suhu sangat rendah yang dapat memicu pembentukan kristal es di dalam awan. Proses tersebut diharapkan mendukung pembentukan presipitasi atau hujan dalam kondisi atmosfer yang sesuai.
Dalam pelaksanaan OMC pada 19 Oktober 2026, BNPB melakukan lima sorti penyemaian di Kalimantan Tengah dengan menggunakan 1.600 kilogram dry ice dan 300 kilogram garam. Sementara itu, di Sumatera Selatan, OMC dilaksanakan dalam tiga sorti, terdiri atas dua sorti menggunakan total 1.600 kilogram dry ice dan satu sorti dengan 800 kilogram garam.
Berton mengatakan, penggunaan dry ice diharapkan memberikan dampak yang dapat diamati dalam waktu relatif singkat, termasuk perbaikan jarak pandang di wilayah terdampak asap. Meski demikian, efektivitas penyemaian tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai.
Ia mencontohkan pelaksanaan OMC di Riau yang berakhir pada 25 September 2026 setelah hujan alami terjadi di wilayah tersebut. Sebaliknya, penyemaian di Jambi belum dapat dilakukan karena kondisi awan dinilai tidak mendukung.
Menurut Berton, kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilaksanakan secara merata di setiap wilayah dan waktu. Ketersediaan awan yang layak menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan penyemaian.
Melalui uji coba ini, pemerintah menggunakan dry ice sebagai alternatif metode konvensional yang memanfaatkan garam atau natrium klorida (NaCl) dalam upaya penanganan dampak karhutla.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
