PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyiapkan pengembangan bisnis mineral sebagai sumber pertumbuhan baru di tengah ketergantungannya pada sektor batu bara. Strategi diversifikasi ini diperkirakan turut meningkatkan pendapatan perseroan hingga US$ 2,32 miliar atau setara Rp 41,76 triliun pada 2028.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas yang dikutip Minggu (25/10/2026), ekspansi BUMI mencakup komoditas tembaga, emas, dan litium. Perseroan memperluas portofolio tersebut melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan aset pertambangan di Australia, termasuk proyek pengembangan tembaga-emas dan emas.
BUMI juga mengakuisisi 100% saham Loyal Metals senilai AUD 79,07 juta. Langkah tersebut memperluas cakupan bisnis mineral perseroan sekaligus membuka potensi pendapatan di luar batu bara.
Meski mulai mengembangkan sektor baru, batu bara masih menjadi bagian penting dari operasional BUMI. Perseroan menjalankan bisnis tersebut melalui Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin Indonesia, dan Pendopo Energi Batubara (PEB), dengan total cadangan dan sumber daya mencapai 9,3 miliar ton.
Kinerja keuangan perseroan turut menunjukkan pertumbuhan. BUMI membukukan pendapatan sebesar US$ 858 juta atau sekitar Rp 15,44 triliun, meningkat 27,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih naik 188,4% secara tahunan menjadi US$ 59 juta atau Rp 1,06 triliun.
Menurut Phintraco Sekuritas, peningkatan tersebut didukung pertumbuhan produksi dan penjualan batu bara, harga jual rata-rata yang lebih tinggi, serta kontribusi usaha patungan. Namun, kenaikan biaya produksi dan melemahnya pendapatan dari bisnis emas masih menjadi tantangan bagi perseroan.
Untuk tahun fiskal 2026, pendapatan BUMI diperkirakan mencapai US$ 1,62 miliar atau Rp 29,16 triliun. Nilai tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga US$ 2,32 miliar pada 2028. Adapun laba bersih diperkirakan meningkat dari US$ 113,4 juta pada 2026 menjadi US$ 187,7 juta pada 2028.
BUMI turut menargetkan penjualan batu bara sebesar 82 juta hingga 84 juta ton sepanjang 2026. Pencapaian target ini diharapkan mendukung kinerja bisnis utama perseroan selama proses diversifikasi berlangsung.
Kendati demikian, proyeksi tersebut masih dibayangi risiko dari pelemahan permintaan batu bara global, ketidakpastian geopolitik, serta potensi kenaikan biaya bahan bakar dan operasional. Perubahan aturan pertambangan juga dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Phintraco Sekuritas menilai kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta ketentuan ekspor perlu dicermati karena dapat memengaruhi kuota produksi, keleluasaan penjualan, dan realisasi pendapatan BUMI.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
