Pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia masih menunggu keputusan pemerintah. Danantara Indonesia menyatakan siap mengoordinasikan pembiayaan, kemitraan, dan keterlibatan berbagai pihak apabila rencana tersebut memasuki tahap lanjutan.
Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan, pengembangan PLTN tidak hanya berkaitan dengan penyediaan listrik, tetapi juga peluang bagi Indonesia untuk menguasai teknologi nuklir dan membangun industri pendukungnya.
Dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026), Ardy mencontohkan pengalaman Korea Selatan yang mengembangkan teknologi nuklir setelah memperoleh transfer teknologi dari Amerika Serikat.
Menurut dia, Indonesia juga memiliki pengalaman dalam penelitian nuklir sejak 1960-an. Modal tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan kemampuan teknologi nasional.
Ardy menjelaskan, rencana PLTN telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Meski demikian, pelaksanaannya masih bergantung pada keputusan pemerintah mengenai arah pengembangan energi nuklir di Tanah Air.
Apabila keputusan tersebut telah ditetapkan, Danantara siap mengoordinasikan pihak-pihak terkait, termasuk PT PLN (Persero) sebagai calon pembeli listrik dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Danantara juga membuka peluang keterlibatan dalam aspek pendanaan dan kemitraan.
Selain untuk memenuhi kebutuhan listrik, penguasaan teknologi nuklir dinilai berpotensi memberikan manfaat bagi sektor lain, termasuk kesehatan. Pengembangan teknologi tersebut juga dapat membuka peluang bagi tumbuhnya industri yang memanfaatkannya.
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani mengatakan, energi nuklir dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menekan emisi karbon sekaligus memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.
Ia menyebut sejumlah negara di Asia Tenggara mulai merencanakan pemanfaatan energi nuklir. Malaysia dan Filipina dikabarkan mengarah pada proyek nuklir pada 2031, sementara Vietnam menargetkan pengembangan pada periode 2031-2035.
Indonesia juga memiliki fasilitas penelitian nuklir di Serpong, Banten, dengan kapasitas sekitar 30 megawatt, serta sumber daya manusia yang dapat mendukung pengembangan teknologi tersebut.
Rencana pembangunan PLTN telah masuk dalam RUPTL PLN periode 2025-2034. Identifikasi lokasi potensial juga menjadi bagian dari persiapan pengembangan energi nuklir nasional.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
