Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengatakan negaranya kehilangan sekitar US$20 miliar atau setara Rp358 triliun pendapatan dari Terusan Suez dalam beberapa tahun terakhir akibat gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Gangguan keamanan di kawasan, terutama di Laut Merah, berdampak terhadap aktivitas pelayaran internasional dan jumlah kapal yang melewati Terusan Suez.
Hal itu disampaikan Sisi dalam pertemuan di markas Komando Strategis Mesir di Ibu Kota Administratif Baru pada Selasa (29/9). Pertemuan tersebut turut dihadiri Perdana Menteri Mostafa Madbouly, sejumlah menteri, gubernur, pejabat senior, serta perwakilan militer dan kepolisian.
Sisi mengatakan kondisi regional memberikan tekanan terhadap perekonomian Mesir. Selain konflik di Timur Tengah, perekonomian negara tersebut juga menghadapi sejumlah guncangan sejak 2020, termasuk pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.
Terusan Suez merupakan salah satu jalur perdagangan utama dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan Laut Merah berdampak terhadap jumlah kapal yang melintas sehingga ikut menekan pemasukan Mesir dari kanal tersebut.
Dalam pertemuan itu, Sisi juga menekankan perlunya pemerintah menggunakan sumber daya negara secara lebih efektif. Ia turut menyerukan penguatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah serta menjaga stabilitas di dalam negeri.
Sisi kemudian menyinggung konflik Israel-Palestina di Gaza yang menurutnya masih menjadi salah satu persoalan penting bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Mesir tetap menolak pemindahan warga Palestina dari Gaza ke wilayah lain. Sisi juga menegaskan bahwa perdamaian merupakan pilihan strategis bagi Mesir dan kembali menyatakan dukungan terhadap solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.
Selain itu, Sisi menegaskan komitmen Mesir terhadap keamanan negara-negara Teluk Arab serta kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional sesuai dengan hukum internasional.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

