World

Harga Minyak Brent Naik ke US$ 106, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Rabu (14/10/2026), dengan minyak Brent mencapai US$ 106,60 per barel. Kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco dan ancaman keamanan di Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 0,91 atau 0,9% menjadi US$ 106,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) meningkat US$ 1,65 atau 1,8% menjadi US$ 95,79 per barel. Harga WTI tersebut merupakan level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak global. Pelaku pasar mencermati risiko terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyak dari kawasan tersebut, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz serta konflik militer antara Arab Saudi dan kelompok Houthi turut menopang kenaikan harga minyak. Meski demikian, arus ekspor minyak dari kawasan tersebut sejauh ini masih bertahan.

Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di Dhahran. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran terbatas.

Dalam sepekan terakhir, Houthi juga dilaporkan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke Arab Saudi. Aksi tersebut disebut sebagai balasan atas dukungan Riyadh terhadap pasukan pemerintah Yaman.

Risiko keamanan juga meningkat di Selat Hormuz. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal kontainer tenggelam setelah menabrak ranjau laut dan terbakar. Sehari sebelumnya, badan operasi perdagangan maritim Inggris melaporkan sebuah kapal kontainer dan kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di kawasan tersebut.

Pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters menyebut negaranya mulai menerapkan taktik ofensif baru untuk menargetkan kapal sekitar 10 hari sebelumnya. Langkah itu disebut bertujuan mempertahankan harga minyak pada level tinggi sekaligus memengaruhi pemilihan paruh waktu AS.

Kepala riset pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pernyataan tersebut memperlihatkan adanya upaya untuk menghambat langkah AS dalam mengendalikan harga minyak.

Di sisi lain, potensi peningkatan pasokan diesel Rusia dinilai dapat menahan kenaikan harga minyak yang terlalu tajam. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Rusia sepakat memasok diesel ke pasar global. Pemerintah AS juga melonggarkan sementara sanksi terhadap bahan bakar Rusia.

Namun, peningkatan pasokan diperkirakan tidak langsung terjadi dalam jumlah besar. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Meski meningkat, angka tersebut masih 870.000 barel per hari di bawah produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

IEA menilai keterbatasan kapasitas operasional kilang Rusia membuat pelonggaran pembatasan ekspor diesel belum akan memberikan perubahan signifikan terhadap keseimbangan pasar. Keterbatasan pasokan diesel juga diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...