Iran menyatakan siap mengambil langkah timbal balik untuk meredakan konflik dengan Amerika Serikat (AS), dengan syarat Washington terlebih dahulu memenuhi tuntutan Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi pada Selasa (13/10/2026).
Dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti, Gharibabadi mengatakan Iran telah menyampaikan persyaratan yang harus dipenuhi AS. Setelah tuntutan tersebut dipenuhi, Teheran akan menentukan langkah yang diperlukan sebagai respons.
Salah satu isu utama dalam pembicaraan kedua negara adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan telah menyampaikan usulan kepada AS mengenai pembukaan selat tersebut selama tujuh hari, dengan imbalan pencabutan blokade laut dan pembatasan ekspor.
Namun, Presiden AS Donald Trump menolak usulan tersebut. Iran kemudian menyampaikan posisinya melalui mediator dan tengah menyiapkan tanggapan lebih terperinci terhadap respons Washington.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan Teheran tidak akan membuka Selat Hormuz sebelum AS menerima tujuh syarat yang diajukan Iran.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah sasaran.
Pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali melancarkan serangan tidak lama setelah kesepakatan tersebut tercapai.
Hingga Selasa, penyelesaian konflik masih bergantung pada negosiasi dan pemenuhan tuntutan masing-masing pihak, termasuk persoalan blokade laut serta akses pelayaran di Selat Hormuz.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

