World

Iran Percepat Negosiasi dengan AS, Mediator Upayakan Pertemuan di Turki

Iran berupaya mempercepat pelaksanaan rencana perdamaian dengan Amerika Serikat (AS) dari tujuh hari menjadi empat hari. Langkah ini dilakukan di tengah upaya mediator internasional mendorong pertemuan di Turki sebelum 4 November 2026 guna mencegah konflik militer antara AS, Israel, dan Iran kembali pecah.

Dikutip dari laporan Al Arabiya, proposal yang dibahas mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta pembahasan program nuklir Teheran. Rencana itu juga membuka kemungkinan kembalinya inspektur internasional untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran.

Meski demikian, kedua negara masih berselisih mengenai urutan pelaksanaan kesepakatan. Washington menginginkan Iran melepaskan persediaan uranium yang diperkaya, sedangkan Teheran mendesak pencabutan blokade AS dan pembebasan asetnya yang dibekukan terlebih dahulu.

Qatar memimpin upaya mediasi dengan dukungan Arab Saudi, Pakistan, Mesir, dan Turki. Negosiator Qatar, Ali al-Thawadi, dilaporkan telah mengunjungi Teheran pekan ini untuk membahas peluang tercapainya kesepakatan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menghidupkan kembali kesepakatan Iran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dicapai di Kairo pada September 2025. Kesepakatan tersebut sebelumnya menyediakan kerangka untuk melanjutkan inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklir Iran, tetapi pelaksanaannya ditangguhkan setelah sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali diberlakukan pada bulan berikutnya.

Dalam proposal terbaru, Iran berpotensi memperoleh keringanan sanksi secara terbatas untuk mengekspor minyak dan mengakses sebagian dana yang dibekukan guna membeli makanan serta memenuhi kebutuhan kemanusiaan. Sebagai imbalannya, Teheran diharapkan mengizinkan inspektur IAEA memeriksa fasilitas nuklir yang rusak akibat serangan AS dan Israel sebelumnya.

Risiko eskalasi militer masih membayangi proses diplomasi tersebut. Pejabat AS dan Israel menyebut kemungkinan operasi militer intensif selama sepekan, dengan sasaran yang berpotensi mencakup pemimpin Iran, fasilitas energi, instalasi nuklir, dan infrastruktur lainnya.

Arab Saudi pun mendesak Washington memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi masih berlangsung melalui perantara, meski ia belum yakin pembicaraan tersebut akan berhasil.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa Teheran terus berkomunikasi dengan para mediator mengenai pelaksanaan kesepakatan. Ia mengisyaratkan rencana yang semula membutuhkan tujuh hari dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari sepekan.

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan penting dalam perundingan. Jalur pelayaran strategis tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik berlangsung. Gangguan lalu lintas di kawasan itu, ditambah blokade AS terhadap pelabuhan Iran, turut menekan perekonomian Teheran.

Para mediator kini berupaya menjembatani perbedaan kedua negara sebelum ketegangan kembali berkembang menjadi konflik militer terbuka.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...