Pemerintah Iran menyatakan tetap mengutamakan upaya diplomatik untuk mencegah konflik baru dengan Amerika Serikat (AS), meskipun telah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi militer.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan, langkah diplomasi dan kerja sama dengan mediator dilakukan untuk menghindari pecahnya perang. Namun, Teheran tetap mempertimbangkan berbagai skenario jika ketegangan dengan Washington kembali meningkat.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Jadeed pada Jumat, Khatibzadeh menegaskan Iran akan memperkuat posisinya di kawasan apabila kembali menjadi sasaran serangan.
Ia juga menyoroti situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi bagian penting dalam distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) ke pasar internasional. Khatibzadeh menuding Amerika Serikat memanfaatkan situasi di selat tersebut sebagai instrumen dalam konfrontasi dengan Iran.
Menurut dia, pengaturan situasi di kawasan Selat Hormuz dapat dilakukan setelah ancaman yang ada dihilangkan. Ketegangan di jalur laut tersebut menjadi perhatian karena gangguan terhadap kebebasan pelayaran berpotensi memengaruhi perdagangan internasional dan keamanan energi.
Selain hubungan dengan Amerika Serikat, Khatibzadeh turut menyinggung situasi di Lebanon. Ia menyatakan bahwa Hizbullah mengambil keputusan secara mandiri, termasuk terkait kemungkinan kembali terlibat dalam permusuhan dengan Israel.
Ia menambahkan bahwa Iran menghormati kedaulatan Lebanon dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur penting bagi pengiriman energi dunia. Karena itu, peningkatan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak lebih luas, terutama terhadap kelancaran pasokan energi dan stabilitas perdagangan global.
Pernyataan Khatibzadeh mencerminkan sikap Teheran yang berupaya mempertahankan jalur diplomasi, sembari menegaskan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik militer.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
