National

Karhutla di Ketapang Rusak Habitat, 55 Orangutan Dievakuasi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mendorong upaya penyelamatan puluhan orangutan yang kehilangan habitatnya. Sejak 6 Agustus hingga 23 Oktober 2026, tim gabungan telah mengevakuasi 55 orangutan dari sejumlah lokasi terdampak.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 individu berasal dari kawasan perkebunan kelapa sawit PT KALE dan wilayah di sekitarnya. Kerusakan habitat akibat kebakaran membuat sebagian satwa harus diselamatkan dan dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih aman.

Terbaru, dua orangutan Kalimantan bernama Adil dan Gigih dipindahkan ke kawasan konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK), Ketapang, pada Sabtu (24/10/2026). Keduanya sebelumnya ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT KALE, Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, setelah kebakaran merusak habitat mereka.

CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Karmele Llano Sánchez, menjelaskan kebakaran telah merusak pohon-pohon yang menjadi sumber pakan sekaligus tempat berlindung orangutan. Kondisi tersebut membuat habitat asal Adil dan Gigih tidak lagi mendukung kehidupan mereka sehingga pemindahan diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan keduanya.

Adil ditemukan di pohon kelapa sawit yang berada tidak jauh dari kawasan Nilai Konservasi Tinggi atau High Conservation Value (HCV) yang terbakar. Saat menjalani pemeriksaan setelah pembiusan, tim menemukan luka kecil berbentuk bulat pada paha kirinya. Luka tersebut diduga berkaitan dengan proyektil senapan angin, meski hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada gangguan kesehatan serius.

Sementara itu, Gigih ditemukan berada di pohon setinggi sekitar 20 meter di kawasan HCV. Proses evakuasi membutuhkan penanganan ekstra karena tim harus melakukan pembiusan secara hati-hati untuk menjangkau dan menyelamatkannya dari ketinggian.

Pemeriksaan medis menunjukkan Gigih mengalami tubuh kurus dan dehidrasi. Tim kemudian memberikan cairan infus serta memantau kondisinya setelah pembiusan guna memastikan kesehatannya stabil sebelum dipindahkan.

Penyelamatan Adil dan Gigih melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, YIARI, dan PT MPK, dengan dukungan masyarakat, TNI, serta Polri. Pemindahan keduanya menambah jumlah orangutan yang telah ditranslokasi ke kawasan konsesi PT MPK menjadi lima individu. Sebelumnya, tiga orangutan jantan telah dipindahkan ke lokasi tersebut sejak awal Agustus 2026.

Kawasan konsesi PT MPK dipilih setelah melalui sejumlah survei kelayakan habitat. Lokasi itu dinilai sesuai untuk mendukung kehidupan orangutan dan relatif aman dari ancaman kebakaran yang merusak habitat sebelumnya. Tim biodiversitas perusahaan turut membantu memeriksa kesesuaian lingkungan dan keamanan kawasan tujuan.

Direktur Utama PT MPK, Silverius Oscar Unggul, menyatakan perusahaan berkomitmen menjaga kawasan konsesi agar tetap layak menjadi habitat orangutan. Menurut dia, kawasan hutan yang masih terjaga dapat menjadi tempat perlindungan bagi satwa ketika habitat lain mengalami kerusakan.

Meski berhasil dipindahkan, proses translokasi bukan akhir dari upaya konservasi. Karmele menekankan bahwa orangutan harus tetap dipantau agar mampu bertahan hidup dan menjalani kehidupan secara bebas di habitat baru.

Ia juga mengingatkan pentingnya melindungi hutan sebagai tempat hidup alami orangutan. Penyelamatan satwa yang terdampak kebakaran perlu disertai upaya mencegah kerusakan habitat agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, yang mengikuti langsung proses translokasi, turut menekankan perlunya komitmen bersama untuk menjaga orangutan dan ekosistemnya. Ia berharap upaya konservasi dapat diperkuat sehingga orangutan tidak terus menghadapi ancaman kehilangan habitat dan harus dievakuasi akibat kebakaran.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...