OPEC+ memutuskan mempertahankan tingkat produksi minyak mentah untuk November 2026 di tengah gangguan ekspor yang masih berlangsung di kawasan Teluk akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan virtual pada Minggu (4/10/2026) oleh tujuh negara inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Mereka sepakat mempertahankan tingkat produksi yang diwajibkan untuk September sebagai target produksi November.
Gangguan tersebut membuat sejumlah negara produsen belum mampu memenuhi target produksi yang telah ditetapkan. Kondisi ini berlangsung sejak konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Tiga sumber yang mengetahui pembahasan mengatakan ekspor minyak dari kawasan Teluk dalam beberapa bulan terakhir baru mencapai sekitar 60 hingga 80 persen dari kondisi normal.
Padahal, OPEC+ sebelumnya telah menaikkan target produksi untuk sebagian besar tahun 2026. Kebijakan tersebut dilakukan setelah kelompok produsen minyak itu bertahun-tahun menerapkan pemangkasan produksi.
Data OPEC mencatat tujuh anggota utama OPEC+ menghasilkan sekitar 25 juta barel minyak per hari pada Agustus 2026. Produksi tersebut meningkat 630 ribu barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, jumlah itu masih lebih rendah sekitar 5 juta barel per hari dibandingkan tingkat produksi sebelum perang pada Februari 2026.
OPEC+ saat ini masih memberlakukan pemangkasan produksi sekitar 2 juta barel per hari yang mencakup sebagian besar negara anggotanya. Kondisi konflik dan gangguan ekspor membuat peningkatan target produksi sebelumnya belum sepenuhnya terealisasi.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

