Komitmen PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam mendukung pengembangan energi ramah lingkungan terus diperkuat melalui pemanfaatan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) sebagai bahan baku produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (Pertamina SAF) di Green Refinery Cilacap.
Inisiatif ini tidak hanya menjadi kontribusi Pertamina mendukung peta jalan transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga menghadirkan dampak berkelanjutan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya dalam aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Salah satu dampak positif yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran untuk mengumpulkan minyak jelantah yang sebelumnya kerap dibuang begitu saja ke saluran air atau lingkungan sekitar.
Kini, minyak bekas memasak tersebut memiliki nilai ekonomi karena dapat dikumpulkan dan dijual kembali dengan harga berkisar Rp5.000–Rp6.000 per liter, atau ditukarkan dengan minyak goreng baru sesuai takaran tertentu.
Executive General Manager (EGM) RU Cilacap, Hermawan Budiantoro, menyampaikan perubahan perilaku masyarakat tersebut menjadi salah satu manfaat nyata dari pengembangan ekosistem pemanfaatan minyak jelantah.
“Melalui pengembangan Green Refinery dan pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku Pertamina SAF, kami ingin hadirkan manfaat lebih luas. Minyak jelantah kini memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat dan pengumpulan minyak jelantah juga membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah yang tidak tepat,” jelas Hermawan.
Hal tersebut disampaikan Hermawan di sela-sela kegiatan Piloting Pengumpulan Minyak Jelantah di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini merupakan program kolaborasi Kementerian Koperasi RI dengan PT Pertamina (Persero).
Dalam implementasinya, masyarakat dapat menyerahkan minyak jelantah yang telah dikumpulkan ke KDKMP. Selanjutnya, minyak tersebut dimasukkan ke dalam mesin UCO Collection Box yang dilengkapi teknologi pemeriksaan kualitas secara otomatis.
Melalui sistem sensor, mesin akan memeriksa kualitas minyak jelantah yang disetorkan. Jika terindikasi tercampur bahan lain, seperti oli bekas atau air, mesin akan menolak setoran tersebut. Sementara itu, minyak jelantah yang memenuhi persyaratan akan diproses untuk dihitung volume sekaligus nilai ekonominya.
Dengan mekanisme tersebut, pengumpulan minyak jelantah diharapkan lebih terukur, transparan, dan terorganisasi. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari limbah rumah tangga, sementara koperasi berperan sebagai penghubung antara warga dan industri pengolahan energi.
Minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya diangkut untuk diproses lebih lanjut menjadi energi baru terbarukan, salah satunya Pertamina SAF di Kilang Green Refinery Cilacap.
Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, menyampaikan model pengumpulan minyak jelantah yang dikembangkan di Banyumas berpotensi menjadi percontohan bagi daerah lain. Ke depan, seluruh KDKMP diharapkan dapat mengambil peran sebagai agen pengumpul minyak jelantah dari masyarakat, sehingga terbentuk ekosistem pengumpulan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Senada, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menilai sinergi dengan koperasi menjadi langkah penting membangun keterhubungan masyarakat sebagai penghasil minyak jelantah dengan kebutuhan bahan baku industri energi nasional.
“Koperasi memiliki posisi strategis sebagai penghubung yang dapat memperkuat partisipasi masyarakat sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku alternatif untuk mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia,” katanya.
Melalui kolaborasi ini, Pertamina berharap pemanfaatan minyak jelantah tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah rumah tangga, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari rantai pasok energi berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Green Refinery Cilacap menjadi komitmen Pertamina Patra Niaga RU Cilacap mendorong inovasi energi ramah lingkungan. Melalui pengolahan bahan baku alternatif seperti minyak jelantah menjadi Pertamina SAF, Pertamina terus berupaya menghadirkan solusi energi masa depan yang tidak hanya mendukung pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi dan mendorong keterlibatan masyarakat.
