Qatar Energy menyepakati pembelian 4 juta metrik ton gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) per tahun dari perusahaan energi Amerika Serikat, Cheniere Energy. Kontrak jangka panjang tersebut berlaku hingga 2054, di tengah penurunan ekspor Qatar akibat kerusakan fasilitas produksi dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Liputan6.com pada Sabtu (24/10/2026), pengiriman LNG berdasarkan kesepakatan itu diperkirakan baru dimulai pada dekade 2030-an. Harga pembelian mengacu pada Henry Hub, patokan harga gas alam di Amerika Serikat, ditambah biaya tetap.
CEO Cheniere Energy, Jack Fusco, menyatakan perusahaannya siap memasok QatarEnergy dari fasilitas Sabine Pass dan Corpus Christi dalam jangka panjang.
Kesepakatan tersebut muncul ketika kemampuan ekspor LNG Qatar mengalami penurunan tajam. Serangan Iran terhadap fasilitas produksi utama di Ras Laffan pada 2 Maret 2026 dilaporkan merusak dua jalur produksi dan mengganggu sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG negara tersebut.
Data ekspor bulanan yang dikutip dalam laporan menunjukkan pengiriman LNG Qatar turun dari 7,62 juta metrik ton pada Januari menjadi 780.000 metrik ton setelah serangan. Pada September, ekspor meningkat menjadi 1,65 juta metrik ton, tetapi masih jauh di bawah tingkat sebelum konflik. Sebaliknya, ekspor LNG Amerika Serikat tercatat bertahan di atas 10 juta metrik ton per bulan sepanjang Januari hingga September.
Menteri Energi Qatar Saad Sherida Al-Kaabi menyebut pemulihan fasilitas Ras Laffan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Ia juga mengatakan keterbatasan akses melalui Selat Hormuz membuat kemampuan Qatar mengirim LNG ke pasar internasional semakin terbatas.
Analis Rapidan Energy, Alex Munton, menilai kontrak jangka panjang dengan Cheniere mencerminkan risiko berkepanjangan terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, pengangkutan LNG sangat bergantung pada jalur laut sehingga pilihan rute alternatif terbatas.
Di sisi lain, kesepakatan tersebut memperkuat posisi perusahaan LNG Amerika Serikat dalam perdagangan energi global. Qatar juga dilaporkan memperoleh pinjaman sebesar US$ 3 miliar dari sejumlah bank China untuk memenuhi komitmen pengiriman internasionalnya.
Qatar sebelumnya merupakan salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat. Gangguan produksi dan distribusi akibat konflik Iran kini mendorong negara tersebut mengamankan pasokan dari pesaingnya untuk memenuhi kebutuhan kontrak jangka panjang.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
