Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026). Rupiah dilaporkan bergerak ke level Rp17.885 per dolar AS, menjadi sinyal positif di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Garuda.
Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak di zona hijau terhadap dolar AS.
Peso Filipina menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,13 persen, dolar Singapura naik 0,09 persen, yen Jepang menguat 0,09 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,31 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong bergerak stagnan. Di sisi lain, yuan China melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, mata uang utama negara maju kompak menguat. Euro Eropa dan poundsterling Inggris masing-masing naik 0,11 persen. Dolar Australia menguat 0,10 persen, dolar Kanada naik 0,02 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,07 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar AS.
Ia mengatakan sentimen penguatan juga didukung harapan meredanya kelangkaan bahan bakar diesel setelah Rusia disebut akan melepas pasokan setiap hari atas permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan terbatas oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
“Penguatan diperkirakan terbatas oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas,” katanya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

