Health Metropolitan

Sudinkes Jaksel Perkirakan Penemuan Kasus TB Capai 13.000 hingga Akhir Tahun

Sudinkes Jaksel Sudah Tangani 8.406 Kasus TBC

Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan terus mengintensifkan penelusuran dan skrining tuberkulosis (TB) untuk mempercepat penemuan kasus serta memastikan warga mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Sudinkes Jakarta Selatan, Fitria Ramdhita, mengatakan sebanyak 8.406 kasus TB tercatat berdasarkan pendataan sejak Januari hingga awal Oktober 2026.

“Jumlah ini didapati melalui kegiatan penjangkauan dan skrining kesehatan di 631 lokasi fokus,” ujarnya, Jumat (16/10).

Fitria memperkirakan jumlah kasus TB yang ditemukan dapat mencapai 13.000 hingga akhir 2026. Menurutnya, upaya penemuan kasus menjadi bagian penting dalam mempercepat intervensi medis dan mendorong pasien memperoleh pengobatan sedini mungkin.

“Saya mengimbau masyarakat yang mengalami gejala TB agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” terangnya.

Ia menjelaskan, gejala TB antara lain batuk selama dua minggu atau lebih, demam berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Warga yang mengalami gejala tersebut diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Masyarakat juga diminta segera menjalani skrining TB, terutama bagi mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB. Pemeriksaan dini diperlukan untuk mendeteksi penyakit sekaligus mempercepat penanganan dan mencegah penularan.

“Segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan dan lakukan skrining TB, terutama jika memiliki kontak erat dengan pasien. TB dapat disembuhkan dan penularannya bisa dicegah,” ungkapnya.

Fitria menambahkan, pengenalan gejala dan pemeriksaan dini menjadi langkah penting agar pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis. Ia mengingatkan warga agar tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala, khususnya jika memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB.

Selain upaya deteksi, Sudinkes Jakarta Selatan juga menghadapi tantangan berupa stigma terhadap penderita TB. Menurut Fitria, sebagian pasien masih khawatir dijauhi oleh lingkungan setelah mengetahui dirinya terdiagnosis TB.

“Tantangan terbesar kami adalah stigma, baik dari masyarakat maupun dari diri pasien sendiri yang merasa takut dijauhi jika terdiagnosis TB. Hal ini terus kami sosialisasikan bersama tenaga kesehatan, Ketua RT/RW, dan kader Dasawisma,” ucapnya.

Fitria menambahkan, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan serta penerapan langkah pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian TB. Pasien perlu mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan dan menjalani evaluasi medis secara berkala.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan etika batuk yang benar dan menggunakan masker guna mengurangi risiko penularan.

“Tidak perlu menunggu sampai enam bulan untuk tidak menularkan. Selain itu, penggunaan masker dan etika batuk yang benar sangat efektif untuk mencegah penularan. Stigma ini harus kita hapus bersama,” tandasnya.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...