Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan sikap keras terhadap Iran dalam wawancara dengan majalah TIME yang dipublikasikan pada 1 Oktober 2026. Ketika ditanya mengenai pernyataannya sebelumnya tentang kemungkinan membinasakan Iran, Trump mengatakan opsi tersebut tetap mungkin dilakukan.
Trump juga mengatakan bahwa menurut pandangannya, perdamaian dengan Iran tidak dapat tercapai dan mengaitkan penghancuran kemampuan Iran dengan terciptanya perdamaian. Pernyataan tersebut disampaikan ketika konflik Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung serta ketegangan di kawasan Timur Tengah tetap tinggi.
Sikap tersebut muncul di tengah kebuntuan diplomatik mengenai proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyampaikan rencana tujuh hari yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dan memulihkan pembicaraan mengenai program nuklir.
Proposal itu mensyaratkan sejumlah langkah dari Amerika Serikat, termasuk pencabutan blokade laut, pelonggaran sanksi minyak, dan penghentian permusuhan tertentu di kawasan. Amerika Serikat kemudian menolak proposal tersebut, sementara rincian respons terbaru Washington kepada Teheran belum seluruhnya dipublikasikan.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengatakan bahwa kemungkinan tindakan militer lanjutan terhadap Iran tetap terbuka. Ia menyebut Amerika Serikat telah menyerang kemampuan militer Iran dan mempertahankan bahwa operasi tersebut telah mengurangi ancaman dari Teheran, meskipun sejumlah klaim mengenai hasil operasi belum dapat diverifikasi secara independen oleh semua sumber.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tetap mempertahankan haknya untuk membela diri, tetapi juga terbuka terhadap dialog. Perbedaan posisi tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomatik masih berjalan bersamaan dengan tekanan dan ancaman militer.
Situasi di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam kebuntuan tersebut karena jalur itu merupakan rute utama perdagangan energi internasional. Penolakan terhadap proposal tujuh hari Iran belum menutup seluruh kemungkinan pembicaraan, dengan sejumlah mediator masih berupaya mencari formula yang dapat mempertemukan tuntutan kedua pihak.
Laporan terbaru juga menunjukkan adanya pembahasan mengenai kemungkinan kesepakatan sementara yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, akses terhadap ekspor minyak Iran, serta isu sanksi dan program nuklir. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons kedua pemerintah terhadap tuntutan masing-masing serta apakah upaya diplomatik dapat menghasilkan kesepakatan yang dapat diterapkan.
Alexander Jason – Redaksi

