Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menegaskan tidak akan terlibat dalam pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung sembilan hari setelah pernyataannya pada Senin (19/10/2026). Sikap tersebut berbeda dengan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam wawancara dengan jurnalis Mark Halperin di pesawat kepresidenan Air Force Two, Vance mengatakan ingin memusatkan perhatian pada pemilihan paruh waktu di AS. Ia menegaskan dukungannya ditujukan kepada kandidat di negaranya sendiri.
Vance juga menyatakan tidak mendukung maupun menentang keputusan Trump untuk mendukung Netanyahu. Ia memilih tidak mengambil posisi dalam kontestasi politik Israel.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan tidak lagi terlibat dalam politik Israel saat diwawancarai majalah Time pada awal Oktober. Namun, sikapnya berubah pada Sabtu (17/10/2026), ketika ia menyampaikan dukungan terbuka kepada Netanyahu melalui media sosial dan menyebutnya sebagai perdana menteri yang tangguh.
Perbedaan sikap kedua pejabat AS tersebut menjadi sorotan menjelang pemilihan umum Israel. Vance memilih menjaga jarak dari persaingan politik negara itu, sementara Trump secara terbuka mendukung Netanyahu.
Sikap Vance juga menarik perhatian karena sebelumnya ia pernah mengunjungi Budapest, Hongaria, untuk mendukung Perdana Menteri Viktor Orbán menjelang pemilihan umum di negara tersebut. Orbán, yang juga memperoleh dukungan Trump, pada akhirnya kalah dalam pemilu.
Di tengah persiapan pemilihan Israel, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melakukan kunjungan mendadak ke negara tersebut. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui kunjungan itu, Hegseth bertemu dengan Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Senin malam.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
