Presiden Israel Isaac Herzog menanggapi pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengenai keinginan sebagian pemilih agar hubungan Washington dan Tel Aviv mengalami perubahan setelah kekalahan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu. Herzog mengatakan pandangan tersebut bukan hal baru dan telah lama menjadi bahan pembicaraan di AS, yang selama ini merupakan salah satu sekutu utama Israel.
Pernyataan itu disampaikan Herzog saat bertemu dengan delegasi Partai Yisrael Beiteinu yang merupakan kelompok oposisi di Israel, Rabu (4/11). Ia merespons komentar Vance yang mengaitkan hubungan AS-Israel dengan sejumlah faktor penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu tersebut.
“Saya baru saja mendengar pernyataan Wakil Presiden Vance. Sentimen seperti ini sudah lama terasa dan dibicarakan di negara sahabat sekaligus sekutu terbesar kami,” ujar Herzog.
Meski demikian, Herzog menegaskan bahwa Israel tetap menghormati kepemimpinan AS, termasuk Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta Partai Demokrat. Ia juga menekankan bahwa pemerintah Israel selama ini berupaya menjaga hubungan baik dengan kedua partai politik utama di Amerika Serikat.
“Saya menghormati Presiden Trump, Wakil Presiden Vance, dan Partai Demokrat. Israel selalu berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga hubungan lintas partai,” tambahnya.
Sebelumnya, Vance menyebut bahwa kekalahan besar Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu pada 3 November dipengaruhi oleh perang AS-Israel terhadap Iran serta hubungan Washington dengan Tel Aviv. Dalam pernyataan melalui media sosial, ia mengutip hasil jajak pendapat yang menunjukkan bahwa sejumlah pemilih yang sebelumnya mendukung Partai Republik menginginkan perubahan kebijakan, termasuk penghentian perang dan peninjauan kembali hubungan dengan Israel.
Kemenangan Partai Demokrat membuat mereka berhasil menguasai Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Perubahan komposisi Kongres tersebut diperkirakan dapat meningkatkan pengawasan terhadap bantuan militer AS kepada Israel serta kebijakan Washington di Timur Tengah.
Reuters melaporkan bahwa kemenangan Demokrat juga mencerminkan meningkatnya perbedaan pandangan di kalangan politik AS mengenai dukungan terhadap Israel. Sejumlah kandidat Demokrat yang berhasil memenangkan pemilu sebelumnya menyuarakan kritik terhadap bantuan militer untuk Israel dan keterlibatan AS dalam perang melawan Iran.
Meski demikian, perubahan kendali Kongres tidak secara otomatis mengubah kebijakan luar negeri AS terhadap Israel. Presiden AS masih memiliki kewenangan besar dalam menentukan arah kebijakan pemerintahannya, meskipun Partai Demokrat kini menguasai kedua kamar Kongres.
Pernyataan Herzog mencerminkan upaya Israel untuk mempertahankan hubungan dengan kedua kubu politik di Washington di tengah meningkatnya perdebatan mengenai dukungan AS terhadap Tel Aviv. Hubungan tersebut selama puluhan tahun mendapat dukungan dari Partai Republik maupun Demokrat, meskipun perbedaan pandangan mengenai konflik di Timur Tengah semakin terlihat dalam politik domestik AS.
Akbari Danico – Redaksi
