Iran menyatakan membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) melalui proposal yang memungkinkan pemulihan keamanan di Selat Hormuz dalam waktu dua hari. Namun, rencana tersebut bergantung pada kesediaan Washington untuk memenuhi sejumlah tuntutan Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (2/11/2026) mengatakan proposal tujuh poin yang sebelumnya diajukan Iran telah disederhanakan agar dapat dilaksanakan dalam waktu lebih singkat. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan dan memulihkan perdamaian.
“Hal ini juga menunjukkan pendekatan Iran yang berlandaskan niat baik. Kami telah menyampaikan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, keamanan di Selat Hormuz dapat dipulihkan dan proses negosiasi dapat dimulai dalam waktu singkat,” ujar Baghaei.
Ia menambahkan bahwa kelanjutan proses tersebut sepenuhnya bergantung pada sikap Amerika Serikat dalam menentukan arah pembicaraan berikutnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa proposal tujuh hari yang diajukan Teheran telah disesuaikan menjadi rencana dua hari setelah pembahasan dengan mediator Qatar. Berdasarkan penjelasannya kepada Al Jazeera, pada hari pertama AS diharapkan mengambil sejumlah langkah yang diminta Iran, sedangkan pada hari kedua Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas pelayaran seperti sebelumnya.
Proposal tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Iran dan AS yang telah mengganggu stabilitas kawasan serta jalur perdagangan energi internasional. Reuters melaporkan bahwa perundingan tidak langsung antara perwakilan Iran dan mediator Qatar masih berlangsung di Doha pada 1 November. Meski komunikasi dengan Washington terus dilakukan, belum ada kesepakatan final yang diumumkan.
Sejumlah tuntutan Iran dalam proposal sebelumnya mencakup penghentian permusuhan, pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan. Teheran juga mengaitkan pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan pemenuhan tuntutan tersebut.
Hingga kini, rencana dua hari tersebut masih berupa proposal yang diajukan Iran dan belum menjadi kesepakatan resmi dengan Amerika Serikat. Kelanjutan proses diplomasi akan bergantung pada respons Washington serta hasil komunikasi yang dimediasi Qatar.
Akbari Danico – Redaksi
