Chief Executive Officer (CEO) Legrand, Benoît Coquart, menilai meningkatnya penolakan masyarakat Amerika Serikat (AS) terhadap pembangunan pusat data atau data centre justru dapat membuka peluang bisnis bagi perusahaannya.
Menurut Coquart, tuntutan agar fasilitas pusat data lebih hemat energi dan ramah lingkungan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap produk yang dikembangkan Legrand, perusahaan infrastruktur kelistrikan dan digital asal Prancis.
Pernyataan tersebut disampaikan Coquart kepada Reuters setelah Partai Demokrat meraih kemenangan dalam pemilihan paruh waktu AS, termasuk di Texas. Hasil pemilu tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya tekanan politik terhadap industri pusat data, yang selama ini menuai kritik dari masyarakat setempat akibat konsumsi listrik dan air yang besar serta kebisingan operasional.
“Saya pikir pertanyaan-pertanyaan tersebut sepenuhnya beralasan. Hal ini sebenarnya cukup positif bagi Legrand secara keseluruhan karena secara alami akan mendorong munculnya solusi yang lebih hemat energi, menggunakan lebih banyak material daur ulang, serta memanfaatkan pembangkit listrik di lokasi,” ujar Coquart.
Ia menjelaskan bahwa produk hemat energi telah menjadi bagian penting dari penawaran Legrand untuk sektor pusat data. Sekitar 40 persen pendapatan perusahaan dari sektor tersebut berasal dari produk yang membantu mengurangi konsumsi energi.
Menurut Coquart, meningkatnya perhatian terhadap dampak lingkungan pusat data tidak selalu berarti industri tersebut akan mengalami penurunan. Kebutuhan terhadap fasilitas penyimpanan dan pemrosesan data diperkirakan tetap tinggi, terutama seiring meningkatnya investasi perusahaan teknologi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Data Reuters menunjukkan bahwa sektor pusat data menyumbang sekitar sepertiga dari total pendapatan Legrand. Bisnis tersebut mencatat pertumbuhan hampir 40 persen dalam sembilan bulan pertama 2026, didorong oleh tingginya permintaan terhadap infrastruktur kelistrikan, sistem pendingin, dan perangkat pendukung pusat data.
Kinerja tersebut turut mendorong Legrand menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunannya untuk kedua kalinya pada 2026. Perusahaan kini memperkirakan penjualan dapat tumbuh 20–22 persen, tidak termasuk dampak perubahan nilai tukar, dengan pertumbuhan organik diproyeksikan mencapai 11–13 persen.
Di Amerika Serikat, penolakan terhadap pembangunan pusat data semakin menguat karena sejumlah komunitas menyoroti dampaknya terhadap ketersediaan listrik, penggunaan air, dan biaya utilitas masyarakat. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kampanye pemilihan paruh waktu, terutama di wilayah yang menjadi tujuan investasi besar perusahaan teknologi.
Coquart mengatakan pelanggan Legrand masih berkomitmen melanjutkan investasi mereka meskipun menghadapi kekhawatiran mengenai biaya pendanaan dan penolakan masyarakat. Ia bahkan melihat kemungkinan perusahaan-perusahaan tersebut meningkatkan belanja untuk pembangunan infrastruktur pusat data.
Dengan demikian, Legrand melihat perubahan tuntutan terhadap industri pusat data sebagai peluang untuk memperluas penggunaan teknologi yang lebih efisien. Perusahaan berharap kebutuhan akan penghematan energi, material daur ulang, dan pembangkit listrik mandiri dapat semakin memperkuat permintaan terhadap produk-produknya.
Akbari Danico – Readksi
