Pemerintah menyiapkan 814 rumah oksigen dan mengerahkan 9.355 tenaga kesehatan untuk menangani dampak kesehatan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan rumah oksigen dan tenaga kesehatan tersebut disebar di berbagai daerah yang terdampak karhutla.
“Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya,” ujar Widyawati dalam konferensi pers, Rabu (4/11).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi per 3 November 2026, terdapat 814 rumah oksigen yang tersebar di 7 provinsi. Rinciannya, 336 unit di Kalimantan Tengah, 175 unit di Kalimantan Selatan, 158 unit di Kalimantan Barat, 131 unit di Jambi, 10 unit di Riau, 3 unit di Sumatera Selatan, dan 1 unit di Kalimantan Timur.
Kemudian, untuk 9.355 tenaga kesehatan yang diterjunkan, rinciannya meliputi 5.525 orang di Kalimantan Timur, 2.589 orang di Jambi, 487 orang di Kalimantan Tengah, 382 orang di Sumatera Selatan, 209 orang di Riau, 121 orang di Kalimantan Barat, dan 42 orang di Kalimantan Selatan.
Ia memastikan tenaga medis dimobilisasi sangat kompeten di bidangnya, mulai dari dokter, bidan, apoteker, ahli gizi, hingga pengemudi ambulans.
“Dan ini menunjukkan penanganan dampak karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan lintas kompetensi untuk respons cepat. Kami memastikan koordinasi Dinas Kesehatan provinsi terus diperkuat untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah memastikan distribusi logistik kesehatan juga dilakukan secara masif ke tujuh wilayah paling terdampak karhutla.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 4 November 2026 pukul 15:00 WIB, pemerintah telah mendistribusikan sekitar 3,8 juta masker, 280 unit konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, dan 939 tabung oksigen. Bantuan juga mencakup ribuan alat pelindung diri (APD) hingga air purifier.
“Kemudian pemberian makanan tambahan atau PMT, bermacam obat, vitamin, hingga kelengkapan penunjang medis lainnya. Disalurkan secara terukur sesuai dengan tingkat kebutuhan fasilitas di daerah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, per 2 November 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 91.913 kasus tercatat pada kelompok balita usia 0–5 tahun, 87.704 kasus pada anak usia 6–9 tahun, dan 56.092 kasus pada kelompok lanjut usia di atas 60 tahun.
Selain itu, terdapat 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja luar ruangan yang menjadi kelompok perhatian dalam penanganan dampak kesehatan akibat karhutla.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi
