Presiden Israel Isaac Herzog mengaku terkejut dengan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan akan menghentikan bantuan untuk Israel mulai tahun ini. Ia menyebut pengumuman tersebut datang secara tiba-tiba, meskipun kedua negara memiliki kesepakatan bantuan militer yang berlaku hingga 2028.
Herzog menyampaikan kekhawatirannya dalam pertemuan dengan Partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot, salah satu rival Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Masalah bantuan Amerika ini sangat mengkhawatirkan saya, dan kabar ini datang begitu tiba-tiba seperti petir di siang bolong,” ujar Herzog, dikutip CNN, Sabtu (7/11).
Ia mengatakan Israel masih memiliki nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan AS yang seharusnya berlaku hingga 2028. Karena itu, Herzog menilai pembentukan pemerintahan perlu segera dilakukan agar Israel tidak terus menghadapi pemilihan umum.
Sebelumnya, Trump menyatakan bantuan AS untuk Israel akan berakhir pada 2026, dua tahun lebih cepat dari jadwal kesepakatan. Selama ini, MoU kedua negara mengatur bantuan sebesar US$3,8 miliar atau sekitar Rp6,8 triliun per tahun untuk pembelian persenjataan buatan Amerika.
Namun, Trump belum memberikan penjelasan terperinci mengenai mekanisme penghentian bantuan tersebut. Pernyataannya disampaikan dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News pada hari pemilihan umum.
Sementara itu, Netanyahu belum memberikan tanggapan terbuka atas pengumuman tersebut. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengatakan sedang mencari kejelasan mengenai kebijakan yang akan diterapkan Washington.
Huckabee juga membela hubungan bantuan militer kedua negara. Menurutnya, kemitraan dengan Israel turut memberikan manfaat bagi masyarakat Amerika Serikat.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
