Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian mengingatkan Perum Bulog agar mengelola cadangan beras pemerintah (CBP) secara hati-hati untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mengantisipasi potensi penurunan produksi pada 2027.
Hal ini menyusul stok beras Bulog yang mencapai sekitar 4,6 juta ton. Di sisi lain, ancaman El Nino dan risiko pergeseran musim tanam dapat memengaruhi produksi beras nasional pada tahun mendatang.
Eliza mengatakan, penyaluran cadangan beras perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap daerah. Bulog juga perlu mempertahankan stok pengaman minimum, menyalurkan persediaan operasional ke wilayah dengan harga tinggi, serta melakukan perputaran stok untuk menjaga kualitas beras.
“Intinya stok pengaman minimum dijaga, stok operasional dilepas secara selektif terutama ke daerah harga tinggi dan stok tua diputar,” kata Eliza dikutip dari Antara, Rabu (4/11/2026).
Menurut dia, besarnya cadangan beras merupakan aset strategis pemerintah. Namun, jumlah stok yang tinggi belum tentu mampu menjaga keterjangkauan harga apabila distribusinya tidak tepat sasaran.
Eliza mengingatkan penyaluran beras secara berlebihan berpotensi mengurangi persediaan ketika produksi terganggu. Sebaliknya, jika terlalu lama disimpan, kualitas beras dapat menurun dan manfaatnya untuk intervensi pasar menjadi kurang optimal.
Berdasarkan laporan Bulog pada Selasa (3/11/2026), stok CBP mencapai sekitar 4,6 juta ton. Sementara itu, kapasitas gudang Bulog tercatat sebesar 6,7 juta ton dengan tingkat keterisian sekitar 70%.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat realisasi penyaluran CBP sejak Januari hingga 28 Oktober 2026 mencapai 2,88 juta ton. Penyaluran tersebut mencakup sekitar 1,16 juta ton melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta 1,63 juta ton bantuan pangan.
Pemerintah juga melanjutkan program SPHP dan menyiapkan bantuan beras bagi sekitar 33,24 juta keluarga penerima pada Oktober hingga Desember 2026. Masing-masing keluarga memperoleh 10 kilogram beras setiap bulan.
Di tengah upaya menjaga pasokan, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang 2026 mencapai 33,11 juta ton. Angka tersebut mengalami penurunan 4,57% atau sekitar 1,59 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi beras pada periode Oktober hingga Desember 2026 juga diperkirakan hanya mencapai 5,01 juta ton, turun 16,32% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Eliza menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena awal 2027 bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pangan masyarakat.
Selain itu, fenomena El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berisiko menggeser masa tanam serta waktu panen di sejumlah sentra produksi. BMKG pada 3 November 2026 mencatat indeks ENSO periode Agustus hingga Oktober 2026 sebesar positif 3,09.
Untuk mengantisipasi dampaknya, Eliza mendorong pemerintah memetakan wilayah yang rawan kekurangan air, mengoptimalkan jaringan irigasi, serta menyalurkan benih dan pupuk berdasarkan kalender tanam yang disesuaikan dengan prakiraan cuaca.
Ia menegaskan pengelolaan cadangan beras harus menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan kesiapan pasokan untuk periode berikutnya.
“Kemampuan Bulog mengadakan kembali bergantung pada realisasi panen,” ujarnya.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
