Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menempatkan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sebagai tonggak transformasi sektor energi nasional. Proyek ini diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia. Pemerintah memandang RDMP sebagai fondasi penting dalam agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional. Peresmian proyek ini menandai percepatan orientasi pembangunan menuju energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
RDMP Balikpapan dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional melalui PT Kilang Pertamina Balikpapan dengan nilai investasi sekitar USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Kapasitas kilang meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari dengan standar produk naik dari Euro 2 ke Euro 5. Modernisasi ini menempatkan kilang Balikpapan sebagai salah satu fasilitas pengolahan energi paling strategis di Asia Tenggara. Peningkatan teknologi ini juga dimaksudkan untuk memperkuat daya saing industri energi nasional.
Proyek ini meningkatkan produksi LPG dari 48 ribu ton per tahun menjadi 384 ribu ton per tahun dan berpotensi menurunkan impor sekitar 4,9 persen. Kompleksitas kilang yang lebih tinggi memungkinkan produksi beragam bahan bakar dan bahan baku petrokimia bernilai tambah. Tingkat Komponen Dalam Negeri tercatat lebih dari 35 persen dengan serapan tenaga kerja mencapai lebih dari 24.000 orang selama masa konstruksi. Dampak ekonomi langsung ini dipandang sebagai manfaat penting bagi daerah dan masyarakat sekitar.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa RDMP harus berjalan seiring dengan pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan tenaga air. Pemerintah menargetkan integrasi panel surya ke sistem kelistrikan nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi. Arah kebijakan ini diharapkan dapat mencapai kemandirian energi dalam kurun lima hingga tujuh tahun ke depan. Dengan demikian, RDMP diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jembatan menuju sistem energi nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Alexander Jason – Redaksi

